Sekarang ini, mungkin sudah saatnya kita mempelajari apa yang disebut dengan ranah atau wilayah kajian filsafat. Ini menjadi penting dipelajari agar kita memiliki suatu gambaran yang cukup tentang apa-apa yang akan dipelajari dalam filsafat. Ya, ini mirip dengan peta jalan yang kita gunakan sebagai panduan untuk bepergian agar kita sampai pada tujuan dengan cepat dan selamat. Dalam konteks belajar kita, memahami ranah kajian filsafat akan memberikan suatu arah yang pasti untuk dapat memilih cabang filsafat yang sesuai, atau siapa filsuf yang cocok, atau gaya filosofi apa yang disukai oleh kita secara pribadi.

Berdasarkan pengamatan saya pribadi, ranah kajian filsafat dapat dipilah menjadi tiga wilayah pokok kajian. Pertama mengenai “dunia” di mana kita tinggal. Setelah itu, pemahaman atas “diri” manusia sendiri. Yang terakhir, ini adalah pemahaman mengenai wilayah “transenden” (transcendence).

Dunia yang kita tinggali menjadi objek pertama perhatian renungan filosofis itu karena kita biasanya selalu punya perhatian yang lebih atas sesuatu yang ada di luar kita. Misalnya, ada ungkapan yang mengatakan bahwa “rumput tetangga itu lebih hijau daripada rumput yang ada di halaman rumah kita”. Hal ini terjadi atas dasar pengaruh rasa kagum akan sesuatu yang kita lihat, dengar, dan rasakan. Namun demikian, setelah kita sadar dengan apa yang kita miliki atau sadar akan diri kita sendiri, biasanya kita akan mencoba untuk instropeksi atau meninjau diri kita sendiri. Pertanyaan seperti apakah kita dan secara umum pertanyaan siapa manusia itu akan terbersit.

Ketika pertanyaan serupa ini muncul, pertanyaan tentang masalah “penciptaan” akan menghampiri. Karena ada dunia dan manusia, tentu ada yang menciptakannya. Inilah yang disebut sebagai masalah transenden dalam filsafat. Kenapa disebut dengan transenden? Ya, ini sebenarnya karena sesuatu yang berhubungan dengan penciptaan dunia dan manusia itu adalah sesuatu yang berada di luar pengetahuan manusia. Sementara itu, masalah yang berhubungan dengan manusia dan dunia seringkali dinamakan dengan “immanen” (immanence), serta dilawankan dengan pengertian transenden. Disebut immanen karena ini berhubungan langsung dengan pengalaman manusia itu sendiri. (Apa ga ada istilah yang lebih mudah dipahami? ^_^ )

Lalu, bagaimana masalah immanen dan transenden ini harus dipahami dalam kaitannya dengan cabang kajian filsafat?

Dari pemahaman mengenai dunia, kita sebenarnya sedang bergerak memasuki cabang filsafat yang disebut dengan Kosmologi (Cosmology). Berasal dari kata Yunani, kosmos (yang berarti dunia atau juga teratur), Kosmologi adalah cabang filsafat yang mengkaji masalah asal muasal alam semesta beserta proses terciptanya. Berdasar pada kajian mengenai dunia inilah juga lahir ilmu-ilmu kealaman, yaitu: Astronomi, Geologi, Fisika, Kimia, dan Biologi.

Pada kajian mengenai manusia, kita akan menemukan hubungan dengan berbagai macam cabang filsafat. Ada kajian Filsafat Manusia (Philosophical Antropology), Filsafat Pengetahuan (Epistemology), Filsafat Nilai (Axiology), Filsafat Moral atau Etika (Ethics), Filsafat Sosial (Social Philosophy), Filsafat Akal (Philosophy of Mind), Logika (Logics), Filsafat Ilmu (Philosophy of Sciences), hingga Filsafat Bahasa (Philosophy of Language). Dari kajian mengenai manusia pula lahir ilmu-ilmu kemanusiaan (humanity sciences) dan ilmu-ilmu sosial (social sciences).

Sedangkan pada kajian atas masalah transendensi, ini secara khusus dikaji dalam cabang filsafat yang disebut dengan Metafisika (Metaphysics). Namun demikian, kita jangan salah paham dulu dengan istilah Metafisika. Walaupun Metafisika itu mengkaji sesuatu yang berada di luar wilayah fisik atau melampaui wilayah fisik, ini tidak kemudian mengandaikan bahwa Metafisika berurusan dengan klenik ataupun magis. Sebab, Metafisika itu memiliki fokus pembicaraan tentang masalah-masalah “ada” (being) dan “kenyataan” (reality). Selain Metafisika, masih dalam masalah transenden, ada cabang filsafat yang mengkaji tentang masalah Pencipta atau Tuhan, yaitu dalam Filsafat Ketuhanan (Theological Philosophy).

Ternyata, dari tiga wilayah pokok kajian ini, kita dapat melihat bahwa sedemikian luasnya kajian filsafat itu. Oleh karenanya, sebagian besar filsuf mengatakan bahwa pokok kajian filsafat hanya dibatasi oleh masalah “tiada” (nothing). “Segala sesuatu yang ada” itu adalah pokok kajian utama dari filsafat. Namun, secara khusus, cabang filsafat yang mengkaji masalah “ada” dan “tiada” pun telah muncul. Inilah yang disebut dengan Ontologi (Ontology). (Aduh mak, luas banget tuh wilayahnya. Mudah-mudahan ga nyasar nih …!😉 )

Demikian, uraian singkat mengenai ranah atau wilayah kajian filsafat. Pada posting selanjutnya, kita akan mempelajari cabang kajian filsafatnya satu-satu. Supaya Anda mendapatkan gambaran tentang ini secara lebih baik, Anda sebaiknya membaca referensi yang saya sebutkan di bawah ini. Paling tidak, dengan melakukan ini, Anda dapat mengecek apakah ada uraian-uraian saya yang kurang dipahami atau malah menemukan adanya kekeliruan. Selamat membaca referensinya ya! (Wah, ko malah ngantuk bacanya? Bangun-bangun …! Minum kopi dulu ya? Hehe…)

Referensi:

1. Harry Hammersma, 1998, Pintu Masuk ke Dunia Filsafat, Cet. XVI, Kanisius, Yogyakarta.

2. Milton D. Hunnex, 1986, Chronological and Thematic Charts of Philosophies and Philosophers, Academie Books, Michigan.