Apakah Filsafat?

Wah, belum apa-apa kok kita dah disuguhin pertanyaan yang berat.πŸ˜‰ Anda sanggup menjawab pertanyaan ini? Kalau iya, silahkan posting dalam komentar di bawah ini.

Kalau tidak, mari kita coba untuk menjawabnya bersama-sama. Kalau kita menilik sejarahnya, kata filsafat ini berasal dari bahasa Yunani, Philosophia. Terdiri dari dua bentukan kata, philos dan sophos atau philein dan sophia. Philos dapat bermakna “sahabat” atau “teman”, sedangkan sophos berarti “kearifan”. Sementara itu, philein tidak lain daripada “mencintai” dan sophia adalah “kebijaksanaan”.

Dengan pemahaman serupa ini, paling tidak sudah ada sedikit pemahaman akan pengertian pertama dari filsafat. Namun demikian, kenapa ini disebut pengertian pertama? Ya, ini memang pengertian pertama. Sebab, kalau kita sudah membuka kamus atau buku filsafat yang seabreg-abreg itu, pengertian filsafat akan sesuai dengan pengertian penulisnya. Beberapa penulis mungkin akan mencapai kata sepakat tentang pengertian ini, sedangkan banyak yang lainnya malah berdebat seumur hidup tentang apa itu filsafat. (Daripada berdebat seumur hidup dan akan membuat kita capek, mendingan kita pahami sedikit-sedikit aja ya? Hehe…)

Walaupun begitu, kita juga dapat memahami apa itu filsafat dengan cara sederhana. Misalnya, kita dapat mendefinisikan filsafat sebagai “sejarah pemikiran”. Ini karena kalau kita membaca teks-teks filsafat yang utama, maka kita akan dihadapkan pada rangkaian pemikiran yang dimulai dari semenjak masa Yunani Kuno hingga masa sekarang ini. Namun, orang boleh saja mengatakan bahwa awal mula filsafat berkembang semenjak masa India Kuno ataupun Cina Kuno. Ini bisa dibuktikan secara historis, walaupun lagi-lagi muncul suatu perdebatan karenanya. (Lho,kok debat lagi ya? Memang, ini kan kerjaan sebagian besar filsuf! Kalau ga debat, mereka akan kehilangan mata pencaharian tuh!πŸ˜‰ )

Contoh lain, kita dapat membuat definisi yang baru bahwa filsafat itu adalah “cara untuk memahami sesuatu”, atau bahasa kerennya adalah “a method to understanding”. Alasan ketika memilih pengertian ini adalah karena pada saat kita belajar filsafat, kita dituntut untuk memamahami apa pun. Baik pemahaman tentang sesuatu yang sudah ada maupun pemahaman akan sesuatu yang mungkin dapat kita pikirkan. Jadi, saking luasnya materi pemahaman filsafat, orang dapat saja tersesat ketika mencoba untuk memahami filsafat. Bahwa ada yang mengatakan filsafat itu sesat atau menyesatkan, itu karena memang beliau ini khawatir kalau kita-kita sebagai pemula pembelajar filsafat akan bingung dan akhirnya mengalami “elol” hingga masuk rumah sakit jiwa. (Apa betul nih? Kok bikin takut aja! Hik hik… Ga usah takut, kita kan cuma akan sedikit memahami filsafat. Jadi, paling cuma agak puyeng-puyeng gitu. Saya jamin kok!πŸ˜‰ )

Nah, karena ada kemungkinan yang belum mungkin terjadi itu, maka belajar filsafat dengan cara yang mudah itu memang dibutuhkan. Ini juga diupayakan karena banyak orang salah memahami filsafat. Sebab, seringkali orang yang bertanya pada saya tentang apa itu filsafat sudah memiliki asumsi negatif. Baik karena mereka tidak tahu atau karena mereka menganggap remeh masalah-masalah filsafat. Bagi mereka, orang yang berfilsafat (filsuf) hanya membuang-buang waktu saja dan melakukan pekerjaan sia-sia. Oleh karena itu, mari kita belajar filsafat terlebih dahulu sebelum kita mencapnya sebagai sesat atau kesia-siaan. Kan, orang juga ga boleh berpikiran negatif tentang orang lain. Mungkin ini aja dulu pengantar dari saya tentang apa itu filsafat. Sampai ketemu lagi!

Mengapa belajar Filsafat?

Aduh, ditanya lagi? Kenapa harus memulai dengan pertanyaan sih? Apa ga bisa dimulai dengan pernyataan aja?

Ini yang mungkin ada dalam benak kita ketika membaca judul di atas. Tapi, jangan heran, sebab filsafat ternyata mengajarkan kita untuk bertanya terlebih dahulu sebelum sampai di wilayah filsafat itu sendiri. Kalau kita sudah membuat satu pertanyaan penting dalam hidup kita, maka kita akan berjalan menuju wilayah filsafat dengan pasti. Jadi, sudahkah Anda membuat pertanyaan itu?πŸ˜‰

Misalnya begini. Apakah yang dinamakan blog itu? Secara sederhana tentu kita dapat menjawab bahwa blog adalah “satu tempat di mana kita dapat berekspresi secara bebas di dunia digital”. Atau, mungkin Anda punya jawaban ini, blog adalah “diari elektronik”.

Nah, dari pertanyaan sederhana tentang blog saja kita sudah mendapat dua jawaban yang berbeda. Jawaban pertama kayaknya terlalu formal, dan jawaban yang kedua lebih mudah kita ingat. Ini sudah menimbulkan sedikit masalah sebenarnya, karena kita mungkin bingung untuk memilih jawaban yang pertama apa jawaban kedua. Atau, malah Anda punya jawaban lain?

Bertambahnya jawaban, walaupun hanya satu, menandakan bahwa pikiran kita yang bingung mulai berkembang untuk mengatasi masalah tersebut. Ada jawaban A, B, hingga Z mungkin. Oleh karenanya, dibutuhkan kemauan dan kesanggupan kita untuk mengatasi masalah tersebut. Dalam konteks ini, filsafat sebenarnya membantu kita untuk menata persoalan. Dalam kasus di atas, kalau kita memiliki jawaban lain yang mengatakan bahwa blog itu adalah “cara baru untuk bertegur sapa”, kenapa ga kita coba aja membandingkannya dengan jawaban di atas.

A –> Blog adalah “satu tempat di mana kita dapat berekspresi secara bebas di dunia digital”.

B –> Blog adalah “diari elektronik”.

C –> Blog adalah “cara baru untuk bertegur sapa”.

(Wah, ini gimana ini maksudnya? Kok bikin pusing aja sih! Hikks … Tenang, bentar lagi kok. Lebih baek Anda minum dulu es teh atau jus yang sudah dipesan. Ben seger lho belajarnya! Hehe …)

Tiga pengertian ini kalau kita ambil yang pokoknya akan terdiri dari beberapa istilah penting, yaitu: “tempat”, “ekspresi”, “bebas”, “dunia digital”, “diari”, “elektronik”, “cara”, dan “tegur sapa”. Istilah-istilah ini kan bisa kita rangkai lagi menjadi pengertian baru menjadi:

Blog adalah “cara berekspresi di dunia digital atau diari yang kita buat secara elektronik dan menjadi tempat untuk bertegur sapa dengan bebas”.

Nah lho! Muncul deh jawaban baru yang merangkum semua jawaban. Inilah gambaran sederhana bagaimana kita berfilsafat. Seperti yang sudah saya singgung dalam posting sebelumnya, filsafat itu adalah “cara untuk memahami sesuatu”. Itu sudah kita terapkan pada langkah-langkah kita untuk menyarikan jawaban baru untuk pengertian blog dari tiga jawaban sebelumnya.

So, inilah salah satu alasan kenapa kita belajar filsafat. Kita kan butuh satu cara untuk lebih memahami masalah-masalah kita; memahami keluarga, saudara, kerabat, sahabat, teman, teman dekat, pacar, “selingkuhan” (ni kalo punya lho! tapi dilarang keras menggunakan filsafat untuk mendapatkan selingkuhan y? hehe …), kolega, orang asing, orang utan, dan macam-macam orang yang sejenis dengan “manusia”; juga yang terpenting memahami tujuan hidup kita sendiri.

Pada tingkat yang lebih jauh, dengan belajar filsafat atau tepatnya belajar memahami secara lebih baik, kita tidak akan menjadi egois alias mengaku yang paling benar. Kalau ada di antara kita yang tukang nyalahin orang itu berarti dia belum belajar filsafat. Dia hanya “belajar teori filsafat”. Jadi, maukah Anda belajar filsafat bersama saya?πŸ˜‰

Belajar Filsafat atau Berfilsafat?

Dalam mempelajari filsafat, sebenarnya ada dua model yang mungkin dapat kita pakai sebagai pilihan. Pertama, mempelajari filsafat secara teoretis, dan yang kedua, mempelajari filsafat secara praktis. Pada pilihan yang pertama, kita dihadapkan pada keharusan untuk belajar filsafat secara teknis dari buku-buku, seminar, kursus, ataupun melalui perkuliahan di pendidikan tinggi. Apa yang kita pelajari di sini adalah “pikiran orang lain tentang filsafat”. Ini sama artinya kita dituntut untuk memahami orang lain dalam kerangka sejarah berpikir umat manusia.

Dalam model yang kedua, ketika kita mempelajari filsafat secara praktis, maka kita akan belajar filsafat melalui hal-hal yang sederhana. Jalan ini sebenarnya sudah dipraktekkan jauh-jauh hari sebelum abad masehi oleh Thales dari Miletos, Yunani. Beliau mempelajari alam sekitarnya untuk mendapatkan kesimpulan bahwa hakikat segala sesuatu terletak pada air sebagai zat yang paling mendasar. Jadi, melalui pemahaman Thales akan dunia sekitarnya, filsafat dipraktekkan sebagai jalan untuk memahami sesuatu. Pada konteks ini, sesuatu yang ingin dipahami Thales adalah dunia.

Nah, sehubungan dengan dua model belajar filsafat ini, maka kita dapat saja memilih salah satunya. Bila jalan pertama yang ditempuh, pada tingkatan yang lebih lanjut, Anda akan terarah menjadi seorang “ahli filsafat”. Sedangkan bila jalan kedua yang ditempuh, Anda akan terarah menjadi “filsuf”. Lalu, apa bedanya ahli filsafat dengan filsuf?

Ahli filsafat sebenarnya lebih banyak menguasai teori yang diungkapkan oleh para filsuf tentang hakikat sesuatu. Dia ini bekerja untuk menguji benar tidaknya teori-teori filsafat secara akademis. Bila seorang ahli filsafat mampu mengkritik dan membangun suatu pandangan baru dari teori filsafat yang diujinya, maka ahli filsafat statusnya bergeser menjadi filsuf.

Khusus untuk filsuf, dia ini sebenarnya adalah orang yang mempraktekkan filsafat baik secara langsung ataupun tidak langsung, hingga dia mendapatkan kesimpulan atas hakikat sesuatu hal yang berbeda dari pandangan kebanyakan orang umumnya. Pandangannya atas sesuatu hal biasanya sangat khas dan merupakan pandangan yang baru untuk sesuatu halnya itu. Filsuf tidak mesti berasal dari ahli filsafat karena mungkin saja seseorang punya suatu teori filsafat tanpa harus belajar filsafat secara teknis. Namun, seseorang akan bergelar sebagai filsuf bila ia diakui telah menelurkan teori filsafat yang dapat diuji secara akademis.

Dengan demikian, belajar filsafat dapat memiliki beberapa maksud. Ada maksud hanya ingin mengetahui filsafat itu seperti apa, ada yang belajar filsafat karena tertarik dengan apa yang dipelajarinya, ada yang karena ingin menjadi seorang ahli filsafat atau filsuf, atau belajar filsafat karena suatu kebutuhan. Barangkali, yang terakhir inilah yang menjadi maksud saya untuk belajar filsafat.πŸ˜‰