Pendahuluan
Dunia  menjelang  abad  XXI  ini  telah  menghadapi  arus  informasi  dan globalisasi   dengan   perkembangan   ilmu pengetahuan dan teknologi yang demikian cepat. Kondisi ini akan semakin mapan dan terasa pada abad  XXI,  karena sebagian besar belahan bumi ini telah terbuka terhadap arus informasi dan teknologi yang telah  bisa  dibendung  lagi. Hal ini sudah barang tentu akan menimbulkan dampak yang sangat luas di dalam kehidupan manusia.
Alfin Toffler mengatakan, dunia telah diterpa oleh dua gelombang peradaban, yaitu agrikultural dan industri. Sekarang, dunia berhadapan dengan peradaban dunia ketiga, yaitu peradaban pasca industri.  Situasi  ini digambarkan jelas oleh Toffler dalam bukunya Future Shock . Berkaitan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, dikatakan: Sebelum tahun 1500, Eropa  memproduksi  buku  dengan  kecepatan  1000  judul  setahun.  Ini  berarti  bahwa menurut perhitungan kasar, diperlukan satu abad penuh  untuk  melengkapi  suatu  perpustakaan  yang  berisi 100.000 judul. Menjelang tahun  1950,  empat  setengah  abad  kemudian,  kecepatan  ini  telah  berakselarasi begitu  tajam  sehingga  Eropa  dapat  memproduksi  120.000  judul  dalam  setahun.  Apa   yang   sebelumnya memerlukan waktu satu abad, kini hanya memerlukan  10  bulan…Dan,  menjelang  tahun  1960-an,  produksi buku pada skala dunia, termasuk  Eropa,  mendekati  menakjubkan  yaitu  1000  judul  dalam  sehari  (Toffler, 1989: 36).
Ilmu  pengetahuan  dan  teknologi  yang  berkembang  dengan  kecepatan  tinggi  ini  semakin  mendorong  terjadinya modernisasi  di  segala  bidang  secara  berkelanjutan.  Perkembangan  baru  ini  memaksa  setiap   orang,   kelompok, lembaga, para pengambil keputusan,  baik  di  tingkat  lokal,  regional,  maupun  internasional  meninjau  ulang  setiap putusan ataupun kebijakan yang diambilnya. Selanjutnya diperlukan kebijakan yang tepat, akurat, efisien, efektif yang harus dilakukan secara cepat. Sementara itu, pengambilan keputusan dan kebijakan menjadi semakin pelik  serta  sulit
dilakukan  karena  permasalahan-permasalahan  sosial,  ekonomi,  politik,  dan  kebudayaan   yang   muncul   semakin beragam, bersifat simultan, kompleks dan tumpang tindih, mendesak untuk  diselesaikan  secara  memuaskan  banyak pihak (Alfian,29-11-1994).
Situasi dan kondisi  serba  cepat  ini  menyebabkan  pula  segala  kebijakan  maupun  perkembangan  budaya manusia mempunyai sifat cepat usang dan sementara, tempo kehidupan semakin cepat dengan  keanekaragaman  gaya
hidup. Tak terasa, seolah-olah dimensi masa lalu pun  bila  dilihat  dari  masa  kini,  sepertinya  berjalan  begitu  cepat pula..  Dengan  demikian  kehidupan  masa  lalu  pun  menjadi  urgen  untuk   dipikirkan   kembali.   Di   samping   itu
perkembangan situasi dan  kondisi  yang  serba  “krisis”  ini  juga  menghendaki  perenungan  kembali  bagi  kalangan ilmuwan  umumnya  tentang  peran  yang  harus  dimainkan  dan  sikap  yang  harus  ditunjukkan  dalam  menghadapi tantanan zaman, khususnya di abad XXI nanti. Tak  kecuali  dengan  sejarawan  (sejarawan  profesional  /  akademisi) perlu  segera  melihat  kembali  peran  yang  telah  dimainkan  selama  ini  dengan  mencari  alternatif-alternatif  baru, termasuk di dalamnya alternatif dalam penulisan sejarah. Perkembangan Ilmu Sejarah Tradisi penulisan sejarah baik di tingkat  dunia  maupun  di  Indonesia  telah  mengalami  perkembangan  yang  cukup menggembirakan. Tradisi  penulisan  sejarah  Yunani-Romawi,  telah  mampu  memberikan  dampak  bagi  kehidupan bangsa Yunani-Romawi. Karya-karya besar sejarawan klasik ternyata dapat memberikan inspirasi dan mempengaruhi  pembentukan watak dan karakter dari bangsa itu sebagai bangsa yang mampu  berjaya  dalam  perkembangan  sejarah (Indriyanto, 29 Desember 1989). Perkembangan penulisan sejarah semakin beragam dengan konsep-konsep dan pendapat-pendapat baru.  Hal ini dapat dibuktikan dari karya-karya besar sejarawan dunia (Gay, 1972; Barnes, 1962; Lichtman dan  Franch,  1978). Perkembangan  studi  sejarah  semakin  tampak  bergairah  ketika   Leopold   von   Ranke   bereaksi   terhadap   aliran romantisme dalam penulisan sejarah dan selanjutnya memperkenalkan studi sejarah kritis yang hendak  berpijak  kuat pada empiri, maskipun tetap bersifat ideografis.
Ucapan Ranke  yang  terkenal  ialah  “Wie  as  eigentlich  gewesen  ist”  (bagaimana  sesungguhnya  sesuatu terjadi)  mempunyai  pengaruh  kuat  bagi  perkembangan  studi  sejarah  kritis  beserta  metode  historis  dari   murid- muridnya antara lain Bernheim dan Bauer. Karya-karyanya tentang metode sejarah juga mendapat pengaruh kuat  dari penggunaan diplomatik yang dirintis oleh Mabillon. Sekolah von Ranke kemudian meluas  ke  seluruh  penjuru  dunia dan berhasil mengangkat sejarah sebagai ilmu sejarah. Sebuah cabang sekolah itu akhirnya menimbulkan  aliran  yangdominan  di  Barat  sampai  Perang  Dunia  Kedua,  ialah  apa  yang  dikenal  sebagai  historisme  (Kartodirdjo,  11-12 September 1995).
Tradisi penulisan sejarah di Indonesia pun mengalami perkembangan sesuai dengan  jiwa  jamannya.  Paling tidak,  perkembangan  historiografi  di  Indonesia  dapat  dibagi   menjadi   tiga   bagian   (Kartodirdjo,   1982),   yaitu
historiografi tradisional, historiografi kolonial,  dan  historiografi  modern.  Kemudian  pada  masa  sekarang  ini  juga berkembang berbagai visi baru dalam penulisan sejarah khususnya menyangkut masalah pendekatan dan metodologi.
Pada masa perkembangan historiografi tradisional, yaitu corak penulisan  sejarah  yang  banyak  ditulis  oleh para  pujangga  kraton,  karya-karya  mereka  bertujuan   untuk   melegitimasi   kedudukan   raja.   Dengan   demikian, historiografi pada masa ini mempunyai ciri-ciri magis, religius,  bersifat  sakral,  menekankan  kultus,  dewa  raja  dan mitologi, bersifat anakronisme,  etnosentrisme,  dan  berfungsi  sosial  psikologis  untuk  memberi  kohesi  pada  suatu masyarakat tentang kebenaran-kebenaran kedudukan suatu dinasti. Selanjutnya, pada  fase  kedua  berupa  historiografi  kolonial  yang  sudah  mendasarkan  pada  tradisi  studi sejarah  kritis.  Namun  demikian,   perspektif   yang   menonjol   masih   menunjukkan   Neerlandosentrisme   sebagai penyempitan  wawasan  Eropasentris.  Asal  mulanya  karya  sejarawan  Belanda  terutama   mengisahkan   perjalanan
pelayar-pelayar  Belanda  serta  kemudian  perkembangan  VOC  dilanjutkan   dengan   pemerintah   kolonial   beserta penguasa-penguasanya.  pendeknya  di  sini  kita  menjumpai   penulisan   sejarah   berdasarkan   tradisi   historiografi
konvensional yang lebih berupa riwayat orang-orang berkuasa, antara lain Gubernur Jendral, raja-raja,  panglima,  dan sebagainya.  Sebuah  model  sejenis  historiografi  ini  adalah  karya  W.F.  Stapel,  Geschiedenis  van  Nerlands-Indie (Kartodirdjo, 11-12 September 1995).
Historiografi modern, merupakan suatu periode perkembangan baru dalam historiografi  Indonesia.  Diawali dengan munculnya karya Husein Djajadiningrat, Critische Beschouwingen van de Sejarah  Banten,  kemudian  karya- karya sejarah sejarah selanjutnya banyak dipengaruhi oleh karya ini, yaitu dengan dipergunakannya aspek pendekatan ilmu lain untuk melengkapi  atau  menulis  suatu  karya  sejarah.  Selanjutnya  muncul  corak  penulisan  sejarah  yang nasionalistis, yang oleh Sartono Kartodirdjo dikatakan bahwa secara umum karya-karya penulisan sejarah periode  ini (post revolusi) merupakan ekspresi dari semangat nasionalistis yang berkobar-kobar dalam menentang  bangsa  asing. Setelah tahun 1957, maka mulailah  terdapat  landasan  yang  jelas  tentang  corak  penulisan  sejarah  Indonesia  yang
modern dengan suatu pendekatan ilmu-ilmu sosial, bersifat Indonesia  sentris,  dan  secara  inherent  mencakup  segala dimensi kehidupan bangsa Indonesia secara komprehensif dengan pandangan dari  dalam  (the  history  from  within). Multidimensional approach, yang dipopulerkan oleh Sartono Kartodirdjo dalam pengerjaan penulisan sejarah semakin digeluti oleh  para  sejarawan  dewasa  ini.  Namun  demikian,  visi-visi  baru  pasca-multidimensional  approach  juga bermunculan. Sebagaimana dicontohkan oleh Taufik Abdullah, bahwa pada  kenyataannya  beberapa  disertasi  masih
mengandung  “perdebatan  terselubung”.  Djoko  Suryo  mencoba  memperkenalkan  quanto-history,  Ibrahim  Alfian, melakukan pendekatan dari  dalam  yang  bertolak  dari  cluster  of  event.  Kedua  studi  ini  merupakan  contoh  yang ekstrem  karena  memperdebatkan  asumsi  teoritis  yang  berbeda.  Meskipun   demikian,   fenomenon   ini   bukanlah merupakan hal yang merisaukan,  tetapi  justru  menggembirakan  karena  perkembangan  penulisan  sejarah  memang harus mengalami  kemajuan  dan  para  sejarawan  harus  berani  menerapkan  berbagai  view  dalam  analisis  historis (Indriyanto, 1994: 29)
Pertentangan antara riset kualitatif versus kuantitatif pun masih berkembang hingga sekarang  ini.  Bukanlah salah satu kebutuhan urgen saat ini adalah terdapatnya visi baru pada sejarah modern, seperti yang dikemukakan  oleh
Alfred Weber? Dengan demikian, apabila produk sejarawan dengan kemajemukan konsep  dan  “perdebatan”  konsep ilmiah masih dalam kerangka akademis itu wajar terjadi, bahkan harus, karena sesuai dengan “kodrat”  perkembangan ilmu  pengetahuan  dan  perkembangan  zaman  itu  sendiri.  Yang  jelas,  mereka  telah  berjasa   dengan   sumbangan pemikiran konsep dalam perkembangan penulisan sejarah. Nonsense  jika  kemajuan  dalam  penulisan  sejarah  hanya  didasarkan  pada  satu  view  of  approach   saja (Indriyanto, 1994: 30) Lalu, bagaimana dengan perkembangan ilmu sejarah dalam era  globalisasi  dan  informasi  khususnya  pada abad XXI mendatang? Sebagaimana dengan “kodrat” sebuah ilmu, maka perkembangan menuju hal yang lebih benar, rasional, objektif, dan berbagai perangkat ilmiah lain, merupakan hal yang wajar dan harus terjadi. Bukankah  sejarah
adalah anak zaman dan setiap generasi menulis sejarahnya sendiri? Akan tetapi toh,  persoalannya  bukan  hanya  itu. Sampai sejauh manakah ilmu sejarah mampu berperan  dalam  menghadapai  tantangan  zaman?  Oleh  karena  zaman begitu cepat berubah dan konsekuensinya banyak  kebijakan  yang  juga  senantiasa  perlu  diubah,  maka  peran  ilmu pengetahuan dalam proses pengambilan keputusan bagi kelangsungan  hidup,  juga  mengalamai  transformasi  “perlu diubah”. Tentunya, perlu diubah, di sini dimaksudkan bukan berarti hasil pemikiran  para  sejarawan  pada  masa  lalu tidak ada gunanya lagi, tetapi ilmu sejarah dituntut oleh zaman untuk bisa memainkan peran. Dengan  demikian,  ilmu sejarah bukanlah menjadi ilmu yang tidak “berwibawa” dalam  percaturan  ilmu  pengetahuan  yang  saling  berlomba
menjadi bahan bakar dalam proses akselerasi kemajuan zaman.  Dunia  kontemporer  pada  saat  itu  menuntut  setiapdisiplin menjadi alat, dan bukan tujuan. Semboyan ilmu demi ilmu dianggap usang karena  menciptakan  jarak  antara ilmuwan dengan realitas. Bagi ilmu sejarah, pencarian  cara,  prosedur,  metodologi,  dan  penerapan  kurikulum  yang cocok untuk mendukung keterkaitan dan kesepadanan sejarah dengan ilmu  pengetahuan   dan  perkembangan  zaman, mutlak  harus  dilakukan.  Ilmu  sebagai  ilmu  atau  ilmu  yang  terisolasi   di   “menara   gading”   dianggap   sebagai
kemewahan dan “kontra-produktif”. Sebagaimana kata B. Croce,  kekinian  atau  contemporary  mendominasi  seleksi dan analisis. Terutama dari sudut pandang para present  minded,  disiplin  sejarah  semestinya  mampu  meningkatkan pemahaman kita secara kuantitatif dan kualitatif tentang permasalahan  sekitar,  dan  membantu  mencari  solusi  demi masa depan yang lebih ideal. Dengan demikian, sejarah tidak menjadi kering, menjemukan, dan tidak relevan  dengan masa kini, apalagi pada abad XXI. Jadi, sejarah dengan fungsi sosialnya  haruslah  juga  memberi  keterangan  tentang sebab-sebab terjadinya suatu pola perilaku tertentu (Ibrahim Alfian, 29-11-1994). Demikian  halnya,  peran  ini  mesti berlaku dan berlangsung pada masa abad XXI, sudah barang tentu dengan perkembangan yang akan terjadi nanti. Pada abad XXI, orang yang menguasai informasi  adalah  paling  menentukan.  Dengan  orientasi  ke  depan, ilmu pengetahuan menjadi “terbuka” untuk bisa dipelajari  oleh  setiap  orang.  Pendeknya,  ilmu  pengetahuan  bukan menjadi monopoli segelintir orang saja, sebagaimana masa lampau bahwa ilmu hanya dipelajari oleh  orang  di  biara-biara saja. Dalam revolusi informasi, maka setiap ilmu berlomba-lomba untuk  bisa  digunakan  dan  diterapkan.  Dan, konsekuensinya, hanya ilmu yang applicable sajalah yang bisa menjawab tantangan zaman. Trends  seperti  ini  harus pula dapat diraih oleh  disiplin  sejarah.  Dengan  demikian,  perkembangan  penulisan  sejarah  type  developmentalis menjadi sangat diperhatikan banyak pihak. Bahkan tidak hanya itu, sifat prediktif dari ilmu sejarah  pun  juga  dituntut oleh zaman  untuk  kepentingan  orientasi  ke  masa  depan.  Oleh  karena  itu,  tidak  heran  bila  madzab  nomothetis,
(selanjutnya lihat: Notosusanto, 1979: 7) dalam abad XXI nanti akan  semakin  berperan  sangat  menentukan,  karena tuntutan zaman.
Apabila kita setuju, kita asumsikan bahwa pada abad XXI mendatang, di samping  arus  globalisasi  semakin meluas, tetapi di sisi lain, kerinduan  masyarakat  terhadap  budaya  akan  semakin  tebal.  Seperti  dilakukan  seorang futuris, Samuel P. Huntington, bahwa  pada  masa  depan,  orang  akan  kembali  mempelajari  dan  ingin  mengetahui budaya masa lampau, karena orang sudah mulai bosan dengan kemajuan teknologi yang serba cepat dan  orang  hanya diatur oleh detak jam dalam kehidupannya. Apalagi asumsi ini benar, maka kedudukan ilmu sejarah menjadi  semakin penting pada masa itu. Sejarah yang merupakan memory masa  lampau,  yang  menyangkut  perjalanan  budaya  suatu masyarakat akan menjadi cermin dan palingan orang pada abad XXI, meskipun  pada  masa  lalu  dan  masa  kini  pun
juga demikian. Hal ini disebabkan, karena sejarah telah menjadi “pengawal” budaya suatu bangsa dan sejarawan  juga menjdai penyampai atau transmitter budaya. Maka tak perlu dirisaukan pula kegunaan dan fungsi ilmu sejarah,  kalau memang asumsi ini memang terjadi. Teachability dan impact sejarah baik sebagai  educator  dan  inspirer  akan  tetap mempunyai fungsi.
Sejarawan dan Peran Intelektualnya
Perkembangan ilmu sejarah tidak bisa dilepaskan  dengan  sejarawan  itu  sendiri  sebagai  subjek  pengembang  ilmu. Oleh karena perkembangan zaman membawa dampak bagi perkembangan ilmu pengetahuan,  termasuk  di  dalamnya ilmu sejarah, maka sejarawan pun mesti juga mengalami perkembangan dalam peran intelektualnya. Akselerasi perkembangan  yang  menuntut  peran  ilmu  secara  lebih  besar  dan  aplikatif  dalam  menjawab
tantangan zaman, menyebabkan sejarawan harus bereksperimen dengan berbagai ragam tindakan  regulasi  perubahan tersebut. Sekaligus,  sejarawan  juga  dituntut  untuk  menemukan  dan  menggantikan  format  peran  sambil  berjalan menyesuaikan zaman. Suatu kenyataan bahwa orientasi ke masa  depan  merupakan  suasana  yang  melingkupi  masa abad XXI, maka orientasi ini juga perlu  dimiliki  oleh  seorang  sejarawan.  Menurut  istilah  C.P.  Snow,  dibutuhkan sejarawan yang “dialiri masa depan” hingga ke tulang sumsumnya. Hal ini berkonsekuensi, sejarawan  perlu  merevisi peran yang selama ini tidak berorientasi ke masa depan. Desakan akselerasi di berbagai bidang,  sesungguhnya  memberikan  “amanat  terselubung”  bagi  sejarawan
untuk bisa meningkatkan kemampuan menanggulangi (cope ability) terhadap persoalan-persoalan yang  muncul  pada abad XXI. Meskipun ada banyak  aliran  sejarawan  dalam  peran  ini,  tetapi  bukanlah  sesuatu  yang  haram,  apabila sejarawan  mulai  melakukan  eksperimen-eksperimen  historis   dalam   analisis   metodologinya,   sehingga   mampu memberikan solusi bagi penyelesaian masalah yang  muncul.  Kalau  toh,  itu  bukan  dinamakan  social  engineering, maka katakanlah sebagai suatu jenis social engineering produk sejarawan, yang menurut Popper (1985), dapat  berupa perencanaan  dan   pembangunan   lembaga-lembaga,   yang   bertujuan   menahan,   mengontrol   atau   mempercepat munculnya perubahan-perubahan sosial tertentu.
Penutup

Adalah suatu kenyataan, bahwa hukum sejarah adalah hukum  perkembangan,  dan  ilmu  sejarah  maupun  sejarawan mesti berada pada gelombang dan arus perubahan zaman itu. Berbagai alternatif pemikiran, merupakan suatu  idea  ofprogress yang perlu disikapi untuk menghindari “kesalahan” masyarakat dalam memahami sejarah. Lebih jauh, berbagai alternatif pemikiran ini, paling tidak bisa memberikan  kesadaran  bagi  sejarawan  agar manusia modern pada abad XXI tidak terlepas dengan masa silamnya. Keterputusan masyarakat modern dengan masa silamnya dan masa silam kemudian hanya menjadi urusan sejarawan melulu, sehingga tulisan dan karya mereka  tidak dibaca lagi oleh kaum awam terpelajar, merupakan suatu yang ironis.  Apabila  hal  itu  memang  terjadi,  maka  suatu bangsa akan menjadi rusak dan identik  dengan  orang  “gila”  yang  tidak  tahu  lagi  masa  lalunya.  Ini  adalah  suatu renungan, tetapi sejarawan mesti akan melangkah ke sana. Dan, mari kita berdiskusi.Oleh: Indriyanto (Dosen Fakultas Sastra UNDIP)

Kepustakaan
Barnes, Herry Elmer, 1962. A History of Historical Writing. New Tork: Dover Publication INC.
Gay, Peter & Gerald J. Cavanaugh, 1972. Historians at Work Vol. I & II. New York: Harper & Row.
Ibrahim Alfian, 1994. “Keterkaitan dan Kesepadanan Disiplin Sejarah”, makalah Forum Komunikasi Hasil Penelitian
Bidang Sastra dan Seni Dirjen Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI, tanggal  29-11-
1994.
Indriyanto, “Gagasan Metodologi Sejarah Masih Mencari Sosoknya”, dalam Prasasti No. 1/VI, Desember 1994.
Indriyanto, “Sejarah: ilmu atau Seni?”, dalam Wawasan, Rabu, 29 Desember 1989.
Lichtman, J. allan & Valerie Franch, 1978. Historians in The Living Past. Arlington Height: Harlan Davidson INC.
Nugroho Notosusanto, 1979. Sejarah Demi Masa Kini. Jakarta: Universitas Indonesia Press.
Popper, Karl R., 1985. Gagalnya Historisisme. Jakarta: LP3ES.
Sartono Kartodirdjo, “Perkembangan Penulisan  Sejarah  di  Indonesia  Selama  Setengah  Abad  Teori  dan  Praktek”,
dalam makalah Seminar Nasional Setengah Abad Budaya  Indonesia,  Fak.  Sastra  UNDIP,  11-12  September
1995.
Sartono  Kartodirdjo,  1982.  Pemikiran  dan  Perkembangan   Historiografi   Indonesia:   suatu   Alternatif.   Jakarta:
Gramedia.
Toffler, Alfin, 1989, Kejutan Masa Depan (terjemahan Sri Kusdiyatinah). Jakarta: Pantja Simpati.
* Makalah disampaiakan pada acara Diskusi Masyarakat Indonesia Sadar Sejarah, di Semarang, tanggal 30 Mei 2001.