Pengantar Ilmu Sejarah

Tinggalkan komentar


“Orang tidak akan belajar sejarah kalau tidak ada gunanya.”


“Kenyataan bahwa sejarah terus ditulis orang, di semua peradaban dan di sepanjang waktu, sebenarnya cukup menjadi bukti bahwa sejarah  itu perlu.”

Sejarah, dalam bahasa Indonesia dapat berarti riwayat kejadian masa lampau yang benar-benar terjadi atau riwayat asal usul keturunan.

Umumnya sejarah dikenal sebagai informasi mengenai kejadian yang sudah lampau. Sebagai cabang ilmu pengetahuan, mempelajari sejarah berarti mempelajari dan menerjemahkan informasi dari catatan-catatan yang dibuat oleh orang perorang, keluarga, dan komunitas. Pengetahuan akan sejarah melingkupi: pengetahuan akan kejadian-kejadian yang sudah lampau serta pengetahuan akan cara berpikir secara historis. Ilmu Sejarah juga disebut sebagai Ilmu Tarikh atau Ilmu Babad.

Dahulu, pembelajaran mengenai sejarah dikategorikan sebagai bagian  dari Ilmu Budaya (Humaniora). Akan tetapi, di saat sekarang ini, Sejarah lebih sering dikategorikan sebagai Ilmu Sosial, terutama bila menyangkut perunutan sejarah secara kronologis.

Ilmu Sejarah mempelajari berbagai kejadian yang berhubungan dengan kemanusiaan di masa lalu. Sejarah dibagi ke dalam beberapa sub dan bagian khusus lainnya seperti kronologi, historiograf, genealogi, paleografi, dan kliometrik. Orang yang mengkhususkan diri mempelajari sejarah disebut sejarawan.

Pertanyaannya adalah: mengapa manusia mempelajari sejarah? Untuk menjawab pertanyaan itu ada baiknya bila kita lihat buku-buku yang mengajarkan sejarah di SD, SMP dan SMU. Lihat sejarah DI-NII di sana! Di buku-buku itu ada kepentingan Republik Indonesia Serikat!

Sejarah sangat identik dengan identitas. Sepanjang sejarahnya manusia selalu mencari tahu tentang siapa dirinya? Karena sudah menjadi sifat dasar manusia untuk mempunyai identitas tentang siapa dirinya. Identitas itu penting karena berkaitan dengan alasan seorang manusia hidup di dunia ini. Secara umum manusia mencari identitas tentang dirinya pada sejarah.

Perhatikan peristiwa di sekitar seorang anak kecil. Seorang anak kecil ketika ditanya identitasnya, setelah diketahui namanya, si penanya biasanya kemudian menanyakan nama orang tuanya. Semakin dewasa seorang anak kecil, maka dia akan semakin berpikir tentang dirinya, dimulai dengan mengetahui asal-usul dia. Keturunan siapakah dia? Dari keluarga macam apakah dia berasal? Dan seterusnya. Ketika seorang manusia mengumpulkan data tentang dirinya, maka sebenarnya dia sedang mempelajari apa yang terjadi di masa lampau.

Percaya atau tidak, manusia sesungguhnya bergerak atau bertindak karena identitasnya. Seorang polisi tidak akan bertindak sebagai polisi bila ia tidak tahu dirinya adalah seorang polisi. Seorang polisi yang sedang mabuk berat, pasti tidak akan sempat mengingat kalau dirinya adalah penegak hukum, maka wajar kalau ia bisa bertindak seperti penjahat pada saat seperti itu.

Inilah yang kemudian disebut sebagai “kesadaran.”

Pentingnya kesadaran dan kesadaran sejarah

Kesadaran merupakan suatu yang dimiliki oleh manusia dan tidak ada pada ciptaan  Tuhan yang lain. Kesadaran yang dimiliki oleh manusia merupakan suatu hal yang unik dimana ia dapat menempatkan diri manusia sesuai dengan yang diyakininya.

Kesadaran profetik merupakan suatu kesadaran yang dimiliki oleh agama dalam rangka melakukan transformasi sosial pada satu tujuan tertentu berdasarkan etika tertentu pula. Sebagaimana kesadaran dalam Islam merupakan suatu bentuk kesadaran yang dimiliki manusia dari Tuhan untuk menentukan dan merubah sejarah, bukan manusia yang ditentukan oleh sejarah. Islam memandang kesadaran manusia merupakan kesadaran immaterial menentukan material, dengan  maksud bahwa iman sebagai basis kesadaran menentukan lingkungan sekitar manusia. Kesadaran dalam Islam merupakan bersifat independen tidak dipengaruhi oleh struktur, basis sosial dan kondisi material. Yang menentukan kesadaran bukanlah individu, seperti dalam teori kesadaran kritis. Teori kesadaran Islam menjadikan individu bersikap aktif dalam menentukan jalannya sejarah. Kesadaran kritis yang ditentukan oleh individu dapat terjatuh dalam pahan eksistensialisme dan iondividualism. Sedangkan kesadaran profetis, bahwa yang menentukan bentuk kesadaran adalah Tuhan, dan ketentuan kesadaran ini untuk menebarkan asma atau nama Tuhan didunia sehingga  rahmat diperoleh manusia, dan bentuk kesadaran ini merupakan kesadaran Ilahiah untuk merubah sejarah. Kesadaran yang dimiliki oleh Islam merupakan kesadaran Ilahiah dan menjadi ruh untuk melakukan transformasi.

Kesadaran merupakan konsep yang dimiliki oleh manusia dalam menghadapi realitas sosial yang terjadi di sekitarya. Kesadaran yang dilakukan oleh manusia merupakan gerak yang berkelanjutan dan kontinyu dalam rangka merespon realitas sosial.  Kesadaran merupakan sesuatu yang membedakan manusia dengan mahluk yang lain, dikarenakan  dengan kesadaran yang dimiliki gerak yang dilakukan tanpa paksaan, tetapi  berdasarkan kemaunan dan keinginannya. Menurut Marxisme kesadaran ditentukan oleh lingkungan sekitar manusia. Jadi dalam pandangan ini  lingkungan lama menentukan lingkungan yang akan diwujudkan. Manusia bergerak dan melakukan apa saja dikarenakan struktur yang berada di luar diri manusia, dan berdasarkan tekanan dari luar, bukan dari dasar pikiran manusia. Bentuk kesadaran yang dimiliki oleh Marxisme ini menjadikan jalannya sejarah yang terjadi merupakan proses materialism. Marx juga mengakui dalam tesisnya bahwa sejarah bergerak dikarenakan kebutuhan materi yang ada dalam diri manusia, sehingga lebih dikenal dengan materialisme dialektik atau materialisme historis.

Hal  ini sangat lain halnya bila dibandingkan dengan konsep kesadaran yang dimiliki oleh  Islam. Kesadaran dalam Islam merupkan ketentuan dari Tuhan. Dari sini, bahwa kesadaran menentukan lingkungan, maka ia bersifat  independen bukan didasarkan pada individu mapun lingkungan yang mengitarinya. Jika kesadaran ditentukan oleh individu maka yang terjadi proses individualism, eksistensialism, liberalism, dan capitalism. Kesadaran yang diinginkan  oleh Islam merupakan pemberian dari Tuhan yakni iman yang dapat membuat atau menentukan struktur sosial, budaya dan kondisi material yang terjadi  dalam masyarakat. Kesadaran yang ditentukan Tuhan ini menjadikan bentuk  kesadaran yang timbul merupakan kesadaran Ilahiah dan bagaimana nilai-nilai Ilahiah ini  agar tertanam dalam bumi agar tercipta khoirul ummah. Kesadaran Ilahiah ini yang membuat konsep kesadaran bagai ikatan, baik secara individu atapun kolektif. Secara otomatis konsep ini menghilangkan konsep kesadaran yang didasarkan pada individu dan juga bentuk kesadaran yang bercorak sekulerisme. Kesadaran ini bercorak intergralistik, dikarenakan manusia sebagai penerima bentuk kesadaran dari Tuhan dan dalam segala aktivitasnya akan diserahkan kembali kepada Tuhan.

Kesadaran Ilahiah merupakan konsep ikatan menghadapi realitas sosial yang terjadi, dengan kesadaran ini, maka cara pandang ikatan berangkat dari teks ke konteks, bukannya dari konteks ke teks.

Kesadaran sejarah merupakan tindak lanjut dari konsep kesadaran Ilahiah, yang dalam  praksisnya melakukan aktivisme sejarah. Kesadaran sejarah ini, dapat juga dilihat dari ajaran agama Islam bahwa Islam merupakan agama amal. Oleh karena itu, dalam ajarannya Islam melarang konsep tentang selibat (tidak kawin),  uzlah (mengasingkan diri) dan kerahiban. Bentuk-bentuk ajaran tersebut tidak diperkenankan dalam Islam dikarenakan tidak sesuai dengan fitrah yang telah dimiliki oleh manusia, untuk menentukan jalannya sejarah dan membuat sejarah yang lebih humanis. Kesadaran profetis dan diaktualisasikan dalam bentuk kesadaran sejarah ini merupakan upaya dalam mewujudkan khoirul ummah. Upaya perwujudan khoirul ummah yang telah diidealkan oleh ikatan dengan melakukan aktivisme sejarah dan kerja keras ikatan baik secara kolektif ataupun secara individual. Bentuk kesadaran sejarahpun dalam Islam dapat dilihat misalkan dalam doanya yang menginginkan kebahagian dalam dunia dan juga akherat. Kebahagian dalam Islam ini dalam dua dimensi dalam dunia dan dalam ukhrawi.  Kebahagiaan dalam dunia diwujudkan dengan kesadaran sejarah upaya mewujudkan khoirul ummah sebagai jalan mendekarkan manusia dengan Pencipta. Kesadaran sejarah  yang dimiliki oleh ikatan menjadikan suatu bentuk yang aktif ikatan, dan  segala yang dilakukan oleh ikatan merupakan sarana ibadah kepada Tuhan dengan mewujudkan impian yang telah dimiliki oleh ikatan. Kesadaran ini menjadikan ikatan  dan individu melakukan transformasi dan perubahan agar realitas menuju atau  mengarah kepada yang diimpikan dalam rangka ibadah kepada Tuhan.

E-paper

Tinggalkan komentar


Dengan semakin murahnya koneksi internet, informasi menjadi sangat mudah didapat. Bahkan media elektronik seperti Televisi kadang kalah cepat dalam memberitakan suatu peristiwa yang penting. Selain itu, sumber berita dari internet juga bisa dikatakan tidak terbatas. Hanya kadang kita perlu menyaring, berita dari sumber mana yang dapat kita percaya.

Lalu bagaimana dengan media cetak? Apakah dengan hadirnya internet semakin mengurangi jumlah oplah harian media ini? Pengaruh itu pasti ada, tapi dibalik itu, media cetak mampu memanfaatkan citra baik sebagai sumber berita yang dapat dipercaya dengan membuat situs online. Sungguh langkah yang cerdik. Bahkan tanpa takut oplah mereka semakin turun, sebagian media cetak berani menerbitkan epaper.

Apa itu epaper? Epaper adalah versi digital dari surat kabar cetak. Jadi yang kita lihat di epaper adalah sama persis dengan yang tercetak di surat kabar. Sebenarnya epaper pertama di Indonesia sudah terbit lebih dari setahun yang lalu, tapi tentu saja semakin lama semakin banyak media cetak yang mengikuti jejak menerbitkan epaper.

Sebagian besar media cetak ini menggunakan aplikasi softpressmedia, pressmart dan issuu untuk men-digital-kan koran mereka. Mau mencoba menikmati? Ini dia daftar epaper surat kabar harian di Indonesia :

1. Kompas
2. Media Indonesia
3. Koran Tempo
4. Suara Merdeka
5. Pontianak Post
6. Jawa Pos
7. Republika
8. Riau Pos
9. Kaltim Pos
10. Pikiran Rakyat
11. Tribun Timur
12. International Bali Post
13. Pos Kota
14. Banjarmasin Post
15. Solo Pos
16. Sumut Pos
17. Batam Pos
18. Bangka Pos
19. Bali Post
20. Rakyat Aceh

Sebenarnya masih ada lagi, anda mau menambahkan?

Revolusi Mesir : Peranan Koalisi Pemuda Revolusi

Tinggalkan komentar


Image

 

 

 

 

 

 

Revolusi rakyat Mesir telah berhasil karena berbagai alasan. Di antaranya karena dimulai dari rasa sakit rakyat Mesir dan penderitaan sehingga tidak percaya terhadap rezim Mubarak. Menurut penelitian akademi adalah hasil kebijakan ekonomi terbuka yang menguntungkan kalangan tertentu dari para pengusaha dan perusahaan-perusahaan atas kemaslahan mayoritas.

Penderitaan sosioekonomi inilah yang menjadi bahan bakar kemarahan para pemuda yang telah membuktikan kepada dunia bahwa umat masih hidup, mampu mengadakan perubahan dan mengarahkan kapal perubahan di laut yang penuh dengan gelombang konspirasi internasional dan intervensi untuk mempengaruhi dan membentuk masa depan negara-negara Arab dan Islam dengan perencanaan eksternal seperti yang terjadi di Irak, yang hancur karena interfensi pihak luar, dan terjadilah apa yang terjadi di dalamnya karena banyak alasan.

Antara lain karena perubahan tidak terjadi dari dalam melalui revolusi rakyat, tetapi datang melalui tank-tank AS pada tahun 2003, setelah bertahun-tahun panjang Irak diembargo dan masa kediktatoran yang lama.

Revolusi meyakinkan bahwa rakyat Mesir lebih kuat dari diktator mana pun. Rakyat Mesir adalah rakyat yang mempunyai peradaban yang membentang sejak ribuan tahun yang dimulai dari masa Fir’aun, Qibthi (golongan Kristen) bahkan pengaruh peradaban Yunani dan Romawi pun berasimilasi di Mesir sebelum terbentuknya budaya dan peradaban Arab dan Islam di Mesir.

Rakyat Mesir telah melawan perangkat keamanan negara mereka yang termasuk di antara perangkat keamanan terbesar di dunia karena terdiri dari 1.5 juta unsur. Revolusi Mesir ini merupakan hasil dari kepintaran dan kepemimpinan kolektif dari masyarakat Mesir. Dan hal ini lah yang berperan di dalam menjaga (mengawal) hasilnya daripada diculik setelah pencapaian tujuan pertamanya.

Kecerdasan kolektif ini dipelopori oleh generasi yang disebut dengan kalangan menengah dari para pelajar di berbagai macam disiplin ilmu di dalam pemerintahan dan sektor swasta, bahkan dari orang-orang yang belajar dan bekerja di luar negeri. Kalau begitu, apa yang dihasilkannya yaitu perubahan di dalam pemikiran kalangan menengah ini yang telah lulus dari universitas-universitas selama 3 dekade yang lalu. Terlebih dengan jumlah populasi rakyat Mesir yang terus naik dari 45 juta warga pada tahun 1980 menjadi 80 juta lebih pada tahun 2010.

Faktor lainnya, keberhasilan Revolusi Mesir ini disebabkan oleh persatuan antara kelompok dan kekuatan politik di Mesir, yang berfokus pekan lalu di bawah kepemimpinan dari apa yang dikenal sebagai “Koalisi Pemuda Revolusi,” karena semua kekuatan politik ini berusaha untuk mensukseskan revolusi ini sebagai “image revolusi kerakyatan,” karena apabila dibuat di bawah kepemimpinan politik yang terpisah-pisah, sudah barang tentu hal ini akan dimatikan oleh pemerintah sejak pertama kali muncul.

Tetapi tulang punggung revolusi ini adalah aktivis muda dari gerakan yang berbeda. Beberapa dari mereka tanpa ideologi dan ada juga yang berideologi, yang menggerakan sendi tubuh masyarakat Mesir, yang meletus dan menciptakan sebuah revolusi yang jarang terjadi dalam sejarah, yaitu ketika hampir sepuluh juta dan mungkin lebih dari sepuluh juta orang dalam satu hari atau 10% dari penduduk Mesir (turun ke jalan).

Koalisi Pemuda Revolusi ini terdiri dari : Pemuda Gerakan 6 April, Pemuda untuk Keadilan dan Kebebasan, Pemuda Ikhwanul Muslimin yang ditangkapi rezim yang lalu (Rezim Hosni Mubarak) sekitar 30 ribu orang selama sepuluh tahun yang lalu, Pemuda Kampanye Kerakyatan untuk Mendukung ElBaradei, Partai Front dan para independenwan yang muncul di jejaring social di internet.

Sudah barang tentu semua ini terjadi atas dukungan dari para pemuda partai politik Mesir lainnya yang sudah ada atau yang sudah melemah di era mantan Presiden Mubarak dan sejumlah gerakan lain sebagai gerakan “kecukupan” dan “Asosiasi Nasional untuk Perubahan.” Dan partai lain di antaranya Al-Wafd dan At-Tajammu dan An-Nashiri.

Faktor lain menurut penelitian Institute for Social Research di Viktoria Australia yaitu erosi yang memakan legitimasi Negara dan institusinya, legislative, eksekutif dan keamanan yang menghilangkan kepercayaan dalam hati jutaan rakyat Mesir terhadap isnstitusi ini dan mendorong mereka untuk berdemonstrasi, oleh karena itu, ketika tentara turun ke jalan-jalan disambut oleh rakyat sebagai jaminan terakhir dari institusi Negara untuk keluar dari dilemma ini.

Perkembangan Wacana Tuntutan Revolusi

Revolusi telah menghilangkan hambatan utama bagi kemajuan rakyat Mesir, dengan runtuhnya pemerintahan Presiden Mubarak dan pernyataan pertama kalinya setelah kurang dari satu jam jatuhnya Mubarak yang merupakan harapan rakyat Mesir untuk masa yang akan datang.

Hal yang penting, kita harus membaca pernyataan yang telah disiapkan di tenda pimpinan Koalisi Pemuda Revolusi di alun-alun At-Tahrih, dan suasana pertemuan penting tersebut disiarkan oleh Al-Jazeera, dan yang dihasilkan dari diskusi para pemuda ini, yaitu sebuah pernyataan yang dibacakan di Al-Jazeera oleh Wakil Ketua Dewan Presiden, Muhammad Fuad.

Sesudah itu, kemudian teks tersebut diserahkan kepada pimpinan militer yang sekarang dijadikan sebagai mitra rakyat di dalam menyelesaikan revolusi ini. Teks pernyataan tersebut berbunyi, “Kami adalah rakyat Mesir, pemilik kedaulatan atas wilayah, nasib serta kekayaan kami yang telah diambil alih kembali dengan revolusi 25 Januari, revolusi rakyat, sipil dan demokrasi, dan pengorbanan para martirnya.

Dan setelah keberhasilan revolusi untuk menggulingkan rezim yang korup dan para pemimpinnya, kami mengumumkan kelanjutan dari revolusi damai ini sampai kemenangan dan pencapaian tuntutannya :

Pertama, pencabutan keadaan darurat segera,
Kedua, pembebasan segera semua tahanan politik,
Ketiga, pencabutan Konstitusi yang ada dan perubahannya,

Dewan Tertinggi Angkatan Bersenjata Mesir su Konstitusi sudah mebekukan Konstitusi Mesir. Pada hari Senin (14/2) terbentuklah sebuah komite untuk mengamandemen konstitusi negara Mesir di bawah pimpinan Kanselir dan pemikir Islam Tariq Al-Besyari dan Sobhi Saleh, seorang anggota blok parlemen dari Ikhwanul Muslimin di Parlemen Mesir tahun 2005, serta Doktor Atef Al-Banna, seorang profesor hukum konstitusi dan para Kanselir dari Pengadilan Agung Konstitusi, dan Hassanein Abdel-’Al dari Universitas Kairo, dan Mohamed Bahi Younis dari Universitas Aleksandria dan Kanselir Mahi Sami Wakil Presiden Agung Mahkamah Konstitusi dan lain-lainnya.

Komisi ini akan terus bekerja selama sepuluh hari ke depan untuk mengamandemen pasal-pasal dari Konstitusi terkait dengan reorganisasi sistem politik dan pemilu. Tentara Nasional Mesir telah berjanji akan mengatur proses referendum atas amandemen Konstitusi ini dalam jangka waktu dua bulan, sebagai langkah awal dari kekuasaan sipil yang demokratis).

Keempat, pembubaran Majelis Rakyat, Majelis Syura dan Dewan Legislatif lokal, ( Dewan Tertinggi Angkatan Bersenjata Mesir benar-benar telah membubarkan Majelis Rakyat dan Dewan Syura) .

Kelima, pembentukan majelis pemerintahan presidensial yang transisi yang terdiri dari lima anggota, termasuk tokoh militer, dan empat tokoh dari sipil yang diakui untuk patriotisme mereka dan disetujui oleh semua, dengan catatan untuk setiap anggota tidak berhak untuk mencalonkan diri dalam pemilihan presiden pertama yang akan datang.

Keenam, membentuk pemerintahan transisi yang terdiri dari kompetensi dan independen nasional, tidak termasuk aliran politik atau partisan yang mengurus urusan negara dan penyedia bagi penyelenggaraan pemilihan umum yang bebas dan pemilihan yang adil pada akhir masa transisi untuk jangka waktu tidak lebih dari sembilan bulan, dengan catatan tidak boleh anggota dari pemerintahan transisi ini mecalonkan diri sebagai presiden atau anggota dewan di pemilu legislatif dan presiden pertama nanti.

Ketujuh, membentuk susunan dewan kepengurusan inti “Jam’iyyah Ta’sisiyyah” untuk pengembangan konstitusi demokratis yang baru sesuai dengan konstitusi demokratis tertua dan perjanjian internasional hak asasi manusia, dan direferendumkan ke rakyat dalam waktu tiga bulan dari deklarasi pembentukan susunan dewan kepengurusan.

Kedelapan, kebebasan untuk membentuk partai politik berdasarkan dasar-dasar sipil, demokratis dan damai, tanpa syarat atau kualifikasi.

Kesembilan, peluncuran kebebasan pers dan pertukaran informasi.

Ksepuluh, peluncuran kebebasan untuk mengorganisir semua jenis serikat dan organisasi masyarakat sipil.

Kesebelas, pembatalan semua pengadilan militer dan luar biasa dan semua putusan-putusan yang dikeluarkan oleh mahkamah terhadap rakyat sipil.

Keduabelas, akhirnya, kami rakyat Mesir memohon dari Tentara Nasional Mesir yang berbakti sebagai generasi dari rakyat yang besar ini yang menjaga darah rakyat dan menjaga keamanan dalam negeri dalam revolusi besar untuk mengumumkan adopsi penuh dari semua keputusan dan tuntutan revolusi dan bergabung secara totalitas dengan rakyat. “

Data pergerakan dan tren politik telah menyebar, memperlihatkan perkembangan wacana revolusi Mesir. Di dalam sebuah pernyataan yang dirilis pada tanggal 14 Februari 2011 oleh koalisi para pemuda revolusi yang memfokuskan demonstrasi mereka untuk 3 tuntutan lainnya, yaitu : (1) pembubaran partai nasional yang berkuasa sebelumnya yang kantor pusatnya telah banyak dibakar oleh para demonstran, bahkan website-nya tidak aktif lagi, (2) penghapusan perangkat Investigasi Keamanan Negara, dan (3) penghapusan undang-undang kepartaian sekurang-kurangnya dalam jangka waktu sepuluh hari dan penyusunan undang-undang baru sekurang-kurangnya dalam jangka waktu satu bulan.

Selain 15 tuntutan tersebut yang ditegaskan juga oleh Ikhwanul Muslimin dan akan segera akan menyusul pengumuman tentang partai politik, ternyata ada yang menuntut agar kasus-kasus korupsi dan kasus-kasus administrasi di semua sektor segera diusut dan diungkap dan semua kasus tersebut dibawa ke meja hijau. Juga ada tuntutan agar segera dilakukan investigasi atas para penyerang/penembak yang menewaskan sebagian demonstran dan ratusan demonstran lainnya hilang selama satu bulan terakhir ini.

Pertanyaan Masa Depan Mesir

Sesungguhnya revolusi ini telah mencapai bagian pertama dari tujuannya dan menang atas kemauan kekuatan-kekuatan luar (asing) yang ingin mempertahankan rezim yang digulingkan. Walaupun rezim itu menjadi rezim penerima bantuan militer AS kedua terbesar di dunia setelah Israel.

Tetapi untuk membangun apa yang telah dihancurkan selama dekade terakhir ini perlu perjuangan yang berlanjut, dan jalan menuju pencapaian mimpi-mimpi revolusi masih berduri dan banyak tantangannya. Karena tujuan menjatuhkan rezim telah menyatukan semua kekuatan politik.

Apakah perhatian dan agenda nasional akan tetap di atas semua kepentingan pribadi, partisan dan politik sampai Mesir mencapai daratan yang aman yaitu sistem yang adil agar rakyat bisa hidup dalam keadaan aman, sejahtera dan memiliki stabilitas. Atau perbedaan akan merembes ke barisan revolusioner dalam hal bagaimana mengarahkan revolusi ini di minggu dan bulan-bulan mendatang.

Dan ada kekhawatiran bahwa revolusi ini akan dipalingkan oleh pihak asing atau lokal dari tujuan utamanya dengan dipetiknya buah atau hasil revolusi ini oleh pemimpin politik yang tidak mengindahkan aspirasi rakyat. Oleh karena itu, tokoh-tokoh demonstran berkata kepada rakyat Mesir untuk tetap waspada, karena revolusi mereka ini baru mencapai tujuan pertamanya saja.

Para pemuda revolusi ini merasa khawatir bahwa kegembiraan rakyat Mesir akan dihancurkan dengan lambatnya revolusi ini atau tidak tercapainya tujuan revolusi yang tuntutan tersebut. Rasa khawatir bahwa revolusi ini akan diculik, sehingga mendorong para pemuda membentuk Majelis Rakyat Sementara atau Majelis Koordinasi Penggerak Revolusi yang mewakili semua kalangan yang berperan di dalamnya. Dan tentara akan menulis sejarah baru apabila mereka merespon semua tuntutan ini dan melaksanakan sepenuhnya.

Revolusi Mesir masih terancam gagal jika tidak tercapai tujuannya sebagaimana dikatakan oleh tokoh-tokoh demonstran. Dan rakyat Mesir yang telah meledak kekuatannya dengan semangat yang tinggi mampu untuk bergerak lagi. Karena semangat ini kembali hidup di hati rakyat Mesir, dan semangat ini akan menjaga keberlangsungan revolusi ini, yang nantinya akan terlihat kembali di dalam kebangkitan ekonomi yang ditunggu-tunggu.

Dua sistem di dunia Arab telah berubah dan ada yang lain sedang dalam proses perubahan, Hal ini terjadi setelah negara-negara Barat dan Timur sudah lama menggunakan satu pola dari situasi perpolitikan dengan sekutunya di dunia Arab.

Tapi Dunia mau tidak mau (terpaksa) harus memikirkan sebuah metode baru dalam berinteraksi untuk menghadapi gelombang demokrasi dan kebebasan baru di dunia Arab. Di antara negara-negara yang konsen terhadap situasi di Timur Tengah, yaitu Eropa dan Amerika Serikat.

Amerika Serikat, yang sangat konsen terhadap peralihan demokrasi di dunia Islam seperti di Indonesia, Bangladesh dan Pakistan dan di negara-negara lainnya. Menurut laporan majalah Time Amerika pada tanggal 11/2/2011 menyatakan bahwa pemrintah Amerika sedang menyiapkan sebuah rencana untuk mendukung oposisi Mesir dalam rangka mendukung reformasi konstitusi, pengembangan demokrasi dan penyelenggaraan pemilu di Mesir.

Amerika Serikat memiliki sejarah yang panjang di dalam mendukung gerakan oposisi di banyak negara yang telah mengalami atau sedang menjalani perpindahan politik sebagai salah satu cara diplomasi luar negeri Amerika terhadap negara-negara tersebut. Apakah dukungan Amerika ini akan mempengaruhi Mesir dan sampai sejauh mana?

Dan kalau kita melihat ke masa depan Mesir, maka kita jangan melupakan peran Mesir dari sisi agama dan budaya, setelah mundurmya peran Al-Azhar sebagai rujukan penting keagamaan yang moderat bagi Ahlu Sunnah (Sunni) di dunia selama dekade terakhir ini. Sesungguhnya reformasi yang terjadi di dalam Lembaga Al-Azhar pada waktu sekarang ini, bisa mengembalikan statusnya dalam restrukturisasi kebijakan dan peran Mesir dalam urusan Arab dan Islam supaya bersinergi antara peran politik Mesir luar negeri dengan peran Al-Azhar terhadap isu-isu umat Islam di dunia. Dan inilah harapan bangsa Arab dan umat Islam dari Mesir di abad 21 ini.

Semua akan memantau masa depan pengalaman revolusi dan reformasi Mesir ini yang mungkin menjadi awal perubahan atau gelombang gerakan kebebasan yang kedua di kawasan Arab di awal abad ini, seperti efek dari ide-ide reformasi yang berasal dari Mesir di awal abad yang lalu yang dampaknya menyebar ke Asia dan Afrika dengan gelombang gerakan pembebasan yang pertama dari penjajahan asing. Dan tanda-tanda kemarahan rakyat nampak yang akan berdampk ke seluruh Timur Tengah. Sohaib Jassim/Kepala Perwakilan Aljazeera di Jakarta.

LOGIKA, FORMAL, MATERIAL, DAN DEDUKSI

Tinggalkan komentar


Logika, seperti telah kita bahas dalam uraian sebelumnya, memiliki materi yang sederhana tapi juga mendasar. Walaupun telaah lanjutannya dapat menghasilkan suatu pengkajian yang super sulit bin sukar, tapi kita sebenarnya tidak membutuhkan model kajian yang serupa itu. Kalau dapat dibuat mudah, kenapa tidak? Ini yang akan kita pelajari dalam pembahasan kali ini. Supaya hal ini terlaksana, kita akan bahas kasus yang dialami oleh kita dalam kehidupan sehari-hari.

Misalnya kita punya kasus seperti ini:

Aslam adalah seorang petani. Ia bekerja membanting tulang setiap hari. Selepas Subuh, ia langsung berangkat ke sawah untuk memulai pekerjaan sebagai seorang penggarap. Dari mulai mencangkul lahan, membenihkan padi, menanam bibit, memupuknya, menyiangi rumput yang ikut tumbuh, membenarkan galangan sawah yang bolong-bolong oleh ketam atau rusak diterjang anak-anak, mengatur air agar selalu menggenang, mengusir burung yang hinggap saat padi hendak matang, hingga memanen padi, menimbang, lalu menjualnya ke pasar. Semua pekerjaan ia lakukan sendiri.

Suatu saat, ia mengeluh karena merasa capai dengan semua pekerjaannya itu. Ia mengeluh pada istrinya. Kata Aslam, “Bu, coba aku sekolahnya bisa sampai tamat SD. Atau, kayak Samir itu lho! Sarjana, punya titel, kerja kantoran, gak kepanasan, juga dapat gaji tiap bulan. Gak kayak aku ini. Sehari-hari ya cuma dapat pas-pasan. Kadang cukup, kadang nggak.” Istrinya menjawab: “Ya sudah. Bapak terima nasib aja. Yang penting, anak-anak kita ga kayak bapaknya.”

Sekarang, coba analisis kasus di atas dengan menggunakan logika. Jawaban seperti apa yang bisa dihasilkan oleh Logika atas kasus di atas? Mau tahu jawabannya?..
Satu-satunya jawaban yang dapat diberikan oleh Logika Formal untuk kasus di atas adalah bahwa dalam kasus ini Aslam menggunakan pola pikir Induktif. Kenapa demikian? Ini karena Aslam menyimpulkan sesuatunya berdasarkan pada banyak pekerjaan yang ia lakukan. Akan tetapi, kalau menggunakan format Logika Material, kasus di atas menyimpan masalah tentang fakta yang tak diungkapkan. Misalnya, apakah ketika panen padi Aslam tidak dibantu oleh satu orang pun? Berapakah luas sawah yang digarap oleh Aslam sehingga ia dapat melaksanakan semua pekerjaannya itu sendirian?

Nah, dengan jawaban ini kita sudah masuk dalam pembahasan istilah baru dari kajian Logika. Mungkin Anda sudah menangkap maksudnya. Tetapi, kalau belum jelas, saya akan paparkan satu-satu.

Logika Formal dan Logika Material adalah salah satu model dari pembagian Logika. Formal di sini dimaksud sebagai suatu pengertian yang mengacu pada bentuk baku yang telah ditetapkan untuk suatu hal berdasarkan kaidah-kaidah logika. Sedangkan Material, ini dimengerti sebagai isi dari suatu hal yang dapat dibuktikan atau dapat diverifikasi (diuji) kesahihannya berdasarkan pada kenyataannya di dunia. Bingung? (Bagus kalau bingung. Itu baru namanya belajar logika. Bukan belajar bahasa lho!😉 )

Contoh di bawah ini akan lebih menjelaskan.

(Contoh 1)

Misal, kita punya dua pernyataan:
(1) Semua manusia itu akan mati
(2) Aslam itu manusia

Kesimpulannya akan menjadi:
(3) Aslam itu akan mati

Contoh di atas ini merupakan suatu pola pikir Deduktif yang lolos dari ujian Logika Formal maupun Material. Kenapa? Ini karena tiga pernyataan di atas sudah memenuhi syarat baku dalam kaidah Formal, maupun benar secara isi seperti yang dikehendaki dalam syarat Material. Berikut kaidah Formal dalam logika yang dimaksud.

(1.1) A is B
(2.1) C is A
————
(3.1) C is B

Keterangan:
Pernyataan 1.1 disebut dengan Premis Mayor (Pernyataan Umum).
Pernyataan 2.1 disebut dengan Premis Minor (Pernyataan Khusus).
Pernyataan 3.1 disebut dengan Konklusi (Kesimpulan).
Kata “is” ini disebut dengan Kopula (atau mirip dengan lambang “=” dalam Matematika).
Kata “itu”, “ini”, atau “adalah” biasa digunakan sebagai Kopula untuk pernyataan logis dalam bahasa Indonesia.

Terus bagaimana dengan syarat Materialnya? Bagaimana penjelasannya?

Kita berikan satu contoh lagi di bawah ini agar dapat Anda bandingkan.

(Contoh 2)
(1.2) Semua manusia itu berumur panjang
(2.2) Aslam itu manusia
——————————————–
(3.2) Aslam itu berumur panjang

Pada contoh terakhir, walaupun sudah memenuhi syarat sesuai dengan kaidah Formal di atas, kita bisa mengetahui bahwa kesimpulannya keliru. Contoh 2 ini menyimpulkan bahwa Aslam itu akan memiliki umur yang panjang. Padahal, mungkin saja kalau Aslam ini berumur pendek. Jadi, untuk contoh 2, kita dapat mengatakan bahwa contoh ini valid/sahih secara formal tetapi keliru secara material.

Terakhir, mungkin Anda masih penasaran dengan dua istilah ini, yaitu: Induktif dan Deduktif. Untuk istilah Deduktif, saya sudah berikan contohnya dalam contoh 1. Begitulah yang disebut pola pikir Deduktif. Sedangkan untuk Induktif, inilah contohnya:

(Contoh 3)
(1.3) Aslam itu akan mati
(2.3) Aslam itu manusia
————————————
(3.3) Semua manusia itu akan mati

Jadi, Anda bisa bandingkan contoh 1 dan contoh 3 ini. Semua pernyataannya sama persis. Hanya saja, dalam contoh 1, pernyataan 3.3 ada dan berlaku sebagai Premis Mayor. Sedangkan pada contoh di sini, pernyataan tersebut malah menjadi Konklusi.

Sekarang, mudah-mudahan Anda dapat mempelajarinya dengan baik dan memahami serba sedikit dari pembahasan Logika beserta model penerapannya dalam menganalisis kehidupan sehari-hari. Oya, sebagai tambahan informasi, kaidah Formal yang dimaksud di atas dalam kajian Logika dinamakan dengan Silogisme. Penemunya adalah filsuf masyhur yang pernah menjadi guru Alexander Agung (356-323 SM). Beliau tidak lain daripada Aristoteles (384-322 SM) atau sang Father of Logics.

LOGIKA, PENGANTAR, DAN MATERI PEMBAHASAN

Tinggalkan komentar


Sebagai salah satu pilar pemahaman kajian filsafat, Logika menjadi cabang yang sebaiknya Anda pelajari pertama kali. Walaupun begitu, orang yang mempelajari Logika seringkali mengalami hambatan. Ini terutama dikarenakan mereka sudah punya pikiran yang kurang baik mengenai Logika. Ada yang mengatakan sukar, hanya main-main saja, ataupun tidak diperlukan karena merasa “saya sudah pandai”.

Padahal, kalau dikatakan sulit, Logika itu kan dipikirkan dan dibuat oleh manusia. Kita yang sesama manusia ini harusnya bisa juga dong belajar Logika. Main-main? Iya juga sih. Sebab, tanpa permainan yang baik dan juga Logika yang cukup, seorang Lewis Carroll (1832-1898) tidak akan dapat membuat cerita Alice in Wonderland (Alice di Negeri yang Indah). Begitupun dengan ungkapan “tidak perlu”, ini harus dihilangkan baik-baik dari pikiran Anda. Sebab, kalau Anda memang benar-benar pandai, Anda tidak akan kuliah sampai S3 dong.

Bukan apa-apa, mempelajari Logika sebenarnya akan memberikan manfaat yang besar kalau kita bisa memahaminya dengan baik. Salah satunya akan membuat kita tidak salah paham dalam menilai pendapat seseorang hingga harus terjadi pertengkaran. Perang sekalipun akan dapat kita hindari kalau kita mampu berpikir logis. Kecuali kita bersikap egois dan hanya berpikir “mau menang sendiri”.

Setelah membaca penjelasan di atas, mungkin ada pertanyaan seperti ini: Apa sih yang dikaji dalam Logika sampai kita harus mempelajarinya?

Ini adalah pertanyaan yang bagus dan cukup tepat untuk kita bahas. Pada cabang Logika, kita akan mempelajari tiga materi yang pokok, yaitu: (1) sejarah dan perkembangan pemikiran logika beserta aliran-alirannya, (2) persoalan istilah beserta pengolahannya, dan (3) persoalan pernyataan beserta pengolahannya. Selebihnya, materi-materi yang khusus dapat ditambahkan. Namun, hal ini tidak akan keluar dari tiga materi pokok yang telah disebutkan.

Sampai di sini, mungkin lagi-lagi ada orang yang mencibir. Mungkin begini komentarnya: “Materi yang begitu kok dibela-belain harus dipelajari. Itu kan pelajaran bahasa Indonesia. Dari SD pun dah saya pelajari. Kenapa harus dipelajari lagi? Buang-buang waktu aja. Kirain mempelajari apa.”

Komentar ini tidak salah. Sebagian besar yang dipelajari Logika memang sudah diajarkan dalam pelajaran bahasa. Tetapi, pelajaran bahasa tidak mengajarkan pada kita untuk menelaah masalah-masalah istilah ataupun pernyataan dengan pengertian filosofis. Artinya, sesuatu istilah dapat saja memiliki beragam arti sesuai dengan pandangan orang yang mendefinisikannya. Untuk lebih jelasnya, kita akan coba bahas istilah “ya” dalam bahasa Indonesia dari sudut pandang bahasa maupun logika.

Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia (1984) yang disusun oleh W.J.S. Poerwadarminta, istilah “ya” dapat berarti:

(1) kata untuk menyatakan setuju; contoh: Ya, baiklah.
(2) wahai; contoh: Ya tuanku!
(3) … bukan; contoh: Ia orang kaya, ya?
(4) gerangan; contoh: Siapa ya yang tadi memanggil namaku?
(5) penguat; contoh: Besok jangan lupa datang ya!

Berdasarkan kelima contoh ini, sebenarnya sudah disebutkan beberapa alternatif yang cukup luas untuk pengertian istilah “ya”. Walaupun demikian, saya dapat saja menambahkan konteks baru dalam pengertian istilah “ya”. Misalnya, dalam kalimat:

(6) “Ya, kalau dia setuju. Kalau tidak, bagaimana?”

Di dalam kalimat ini, istilah “ya” mengandung pengertian ‘persetujuan yang bersyarat’. Artinya, istilah “ya” pada kalimat (6) berbeda pengertiannya dengan kalimat (1) yang saya kutipkan di atas karena persetujuannya tidak langsung terpenuhi dengan hanya mengatakan “ya”.

Memahami uraian yang menggunakan contoh-contoh di atas, nampak bahwa apa yang diuraikan oleh Poerwadarminta atas pengertian istilah “ya” dari segi bahasa tidak dapat merangkum seluruh pengertian istilah “ya” yang mungkin akan muncul. Termasuk penjelasan yang sebaiknya diberikan untuk pengertian istilah “ya” dalam pengertian nomor (3). Kenapa istilah “ya” dalam bahasa Indonesia juga mengandung istilah negatif (‘bukan’)? Padahal, dalam bahasa Inggris, kita tidak menemukan istilah “yes” yang mengandung istilah negatif.

Pertanyaan serupa di atas pun tidak akan muncul kalau kita tidak menggunakan Logika sebagai dasar penalarannya. Oleh karena itu, kita dapat mengatakan bahwa pada uraian-uraian di muka, Logika mengajarkan kita memahami suatu istilah dalam berbagai konteks dan situasi. Ini dimungkinkan kalau kita dibiasakan untuk berpikir dengan beragam pandangan. Sehingga, pikiran kita tidak hanya tertuju pada satu pengertian saja dan akhirnya bisa terjatuh pada pikiran yang sempit. Apa yang ditulis dalam sebuah kamus dalam pelajaran bahasa tidak dapat dijadikan patokan dasar, walaupun dapat dijadikan acuan resmi untuk satu istilah.

Ranah Kajian Filsafat

Tinggalkan komentar


Sekarang ini, mungkin sudah saatnya kita mempelajari apa yang disebut dengan ranah atau wilayah kajian filsafat. Ini menjadi penting dipelajari agar kita memiliki suatu gambaran yang cukup tentang apa-apa yang akan dipelajari dalam filsafat. Ya, ini mirip dengan peta jalan yang kita gunakan sebagai panduan untuk bepergian agar kita sampai pada tujuan dengan cepat dan selamat. Dalam konteks belajar kita, memahami ranah kajian filsafat akan memberikan suatu arah yang pasti untuk dapat memilih cabang filsafat yang sesuai, atau siapa filsuf yang cocok, atau gaya filosofi apa yang disukai oleh kita secara pribadi.

Berdasarkan pengamatan saya pribadi, ranah kajian filsafat dapat dipilah menjadi tiga wilayah pokok kajian. Pertama mengenai “dunia” di mana kita tinggal. Setelah itu, pemahaman atas “diri” manusia sendiri. Yang terakhir, ini adalah pemahaman mengenai wilayah “transenden” (transcendence).

Dunia yang kita tinggali menjadi objek pertama perhatian renungan filosofis itu karena kita biasanya selalu punya perhatian yang lebih atas sesuatu yang ada di luar kita. Misalnya, ada ungkapan yang mengatakan bahwa “rumput tetangga itu lebih hijau daripada rumput yang ada di halaman rumah kita”. Hal ini terjadi atas dasar pengaruh rasa kagum akan sesuatu yang kita lihat, dengar, dan rasakan. Namun demikian, setelah kita sadar dengan apa yang kita miliki atau sadar akan diri kita sendiri, biasanya kita akan mencoba untuk instropeksi atau meninjau diri kita sendiri. Pertanyaan seperti apakah kita dan secara umum pertanyaan siapa manusia itu akan terbersit.

Ketika pertanyaan serupa ini muncul, pertanyaan tentang masalah “penciptaan” akan menghampiri. Karena ada dunia dan manusia, tentu ada yang menciptakannya. Inilah yang disebut sebagai masalah transenden dalam filsafat. Kenapa disebut dengan transenden? Ya, ini sebenarnya karena sesuatu yang berhubungan dengan penciptaan dunia dan manusia itu adalah sesuatu yang berada di luar pengetahuan manusia. Sementara itu, masalah yang berhubungan dengan manusia dan dunia seringkali dinamakan dengan “immanen” (immanence), serta dilawankan dengan pengertian transenden. Disebut immanen karena ini berhubungan langsung dengan pengalaman manusia itu sendiri. (Apa ga ada istilah yang lebih mudah dipahami? ^_^ )

Lalu, bagaimana masalah immanen dan transenden ini harus dipahami dalam kaitannya dengan cabang kajian filsafat?

Dari pemahaman mengenai dunia, kita sebenarnya sedang bergerak memasuki cabang filsafat yang disebut dengan Kosmologi (Cosmology). Berasal dari kata Yunani, kosmos (yang berarti dunia atau juga teratur), Kosmologi adalah cabang filsafat yang mengkaji masalah asal muasal alam semesta beserta proses terciptanya. Berdasar pada kajian mengenai dunia inilah juga lahir ilmu-ilmu kealaman, yaitu: Astronomi, Geologi, Fisika, Kimia, dan Biologi.

Pada kajian mengenai manusia, kita akan menemukan hubungan dengan berbagai macam cabang filsafat. Ada kajian Filsafat Manusia (Philosophical Antropology), Filsafat Pengetahuan (Epistemology), Filsafat Nilai (Axiology), Filsafat Moral atau Etika (Ethics), Filsafat Sosial (Social Philosophy), Filsafat Akal (Philosophy of Mind), Logika (Logics), Filsafat Ilmu (Philosophy of Sciences), hingga Filsafat Bahasa (Philosophy of Language). Dari kajian mengenai manusia pula lahir ilmu-ilmu kemanusiaan (humanity sciences) dan ilmu-ilmu sosial (social sciences).

Sedangkan pada kajian atas masalah transendensi, ini secara khusus dikaji dalam cabang filsafat yang disebut dengan Metafisika (Metaphysics). Namun demikian, kita jangan salah paham dulu dengan istilah Metafisika. Walaupun Metafisika itu mengkaji sesuatu yang berada di luar wilayah fisik atau melampaui wilayah fisik, ini tidak kemudian mengandaikan bahwa Metafisika berurusan dengan klenik ataupun magis. Sebab, Metafisika itu memiliki fokus pembicaraan tentang masalah-masalah “ada” (being) dan “kenyataan” (reality). Selain Metafisika, masih dalam masalah transenden, ada cabang filsafat yang mengkaji tentang masalah Pencipta atau Tuhan, yaitu dalam Filsafat Ketuhanan (Theological Philosophy).

Ternyata, dari tiga wilayah pokok kajian ini, kita dapat melihat bahwa sedemikian luasnya kajian filsafat itu. Oleh karenanya, sebagian besar filsuf mengatakan bahwa pokok kajian filsafat hanya dibatasi oleh masalah “tiada” (nothing). “Segala sesuatu yang ada” itu adalah pokok kajian utama dari filsafat. Namun, secara khusus, cabang filsafat yang mengkaji masalah “ada” dan “tiada” pun telah muncul. Inilah yang disebut dengan Ontologi (Ontology). (Aduh mak, luas banget tuh wilayahnya. Mudah-mudahan ga nyasar nih …!😉 )

Demikian, uraian singkat mengenai ranah atau wilayah kajian filsafat. Pada posting selanjutnya, kita akan mempelajari cabang kajian filsafatnya satu-satu. Supaya Anda mendapatkan gambaran tentang ini secara lebih baik, Anda sebaiknya membaca referensi yang saya sebutkan di bawah ini. Paling tidak, dengan melakukan ini, Anda dapat mengecek apakah ada uraian-uraian saya yang kurang dipahami atau malah menemukan adanya kekeliruan. Selamat membaca referensinya ya! (Wah, ko malah ngantuk bacanya? Bangun-bangun …! Minum kopi dulu ya? Hehe…)

Referensi:

1. Harry Hammersma, 1998, Pintu Masuk ke Dunia Filsafat, Cet. XVI, Kanisius, Yogyakarta.

2. Milton D. Hunnex, 1986, Chronological and Thematic Charts of Philosophies and Philosophers, Academie Books, Michigan.

Cabang Utama dalam Kajian Filsafat

Tinggalkan komentar


Setelah beberapa lama absen, akhirnya saya bisa kembali lagi menulis. Kemarin-kemarin memang agak lelah dan capek soalnya. Banyak pekerjaan yang perlu diselesaikan. Tetapi, itu tidak mengurangi semangat saya untuk melanjutkan blog ini. Oya, selamat membaca aja posting yang baru ini!.

Pada posting yang berjudul Ranah Kajian Filsafat, saya sudah menjelaskan kalau wilayah penelaahan filsafat dapat dibagi menjadi 3 bagian. Hal ini meliputi kajian tentang Dunia, Manusia, dan Tuhan. Dari tiga subjek ini, filsafat dapat dipilah menjadi beberapa cabang seperti telah diuraikan pada posting tersebut. Namun demikian, kali ini saya akan membahas cabang kajian filsafat dengan rumusan yang agak berbeda dengan yang telah dijelaskan. Untuk lebih jelasnya, hal ini akan diuraikan pada paragraf-paragraf di bawah ini.

Dalam mempelajari filsafat, para ahli biasanya mengatakan bahwa cabang utama kajian filsafat (main branches of philosophy) itu terdiri dari Logika, Metafisika, Etika, Epistemologi, Estetika, Theologia, maupun Filsafat Ilmu. Ada juga yang mengatakan cabang lainnya, tergantung pada sisi mana mereka memberikan titik tekannya. Bagi pakar filsafat yang memiliki kecenderungan untuk menekuni masalah-masalah kemanusiaan, Etika dan Filsafat Politik menjadi cabang yang disorot secara khusus. Ketika titik tekan itu bergeser pada masalah-masalah kealaman atau keilmuan, maka giliran Epistemologi, Filsafat Ilmu, ataupun Metodologi Filosofis yang menjadi tumpuan. Sedangkan bila kajian yang sifatnya transendental menjadi perhatian utama, maka cabang Theologia, Ontologi, dan Metafisika yang mendapat giliran.

Oleh karena beragamnya titik tekan dalam memilah-milah cabang filsafat tersebut, tentu saja hal ini akan membuat filsafat menjadi sangat sukar dikaji. Sebab, ketika misalnya saya membaca filsuf yang sangat perhatian dengan masalah-masalah kemanusiaan, maka saya kehilangan arahan tentang kajian masalah kealaman dan juga masalah transendental. Begitupun juga ketika membaca filsuf yang memiliki titik tekan pada masalah lainnya.

Hal ini biasa terjadi dan itu memang sewajarnya. Ini terjadi karena setiap filsuf memiliki spesialisasi atau kekhususan pikiran dalam corak filsafatnya. Akan tetapi, bagi seseorang yang baru belajar filsafat atau orang yang ingin belajar filsafat secara mudah, ini menjadi masalah yang cukup mengganjal. Sebab, dengan tiadanya kesepakatan di antara para filsuf, cabang utama kajian filsafat hingga kini tidak pernah ditetapkan. Akibatnya, orang itu akan “tersesat” di belantara filsafat yang cukup luas. (Nah lho…! Tapi mungkin saja saya keliru karena sudah ada buku baru tentang masalah ini. Hehe… Tolong kasih tahu ya kalau ada info tentang ini.😉 )

Karena masalah-masalah di atas, dalam blog ini, saya memutuskan untuk menetapkan secara sederhana saja apa yang dimaksud dengan cabang utama kajian filsafat itu. Kriteria untuk ini adalah cabang tersebut dapat dipakai sebagai dasar untuk mengkaji semua masalah yang telah disebutkan tanpa harus terjatuh pada satu titik penekanan. Dengan demikian, orang yang ingin belajar filsafat dengan mudah akan lebih fokus mempelajari masalah-masalah tersebut tanpa harus bergelut dengan kebimbangan.

Dari sekian banyak cabang filsafat, sebenarnya ada empat cabang yang bisa dijadikan dasar untuk memahami cabang lainnya. Cabang ini pun dapat mewadahi berbagai masalah yang ada. Empat cabang filsafat yang dimaksud adalah: Logika, Epistemologi, Ontologi, dan Aksiologi. Cabang filsafat ini dapat dipelajari berurutan. Berikut adalah penjelasan kenapa cabang filsafat ini dapat dipelajari secara bertahap.

Berpikir, secara umum, adalah kegiatan yang biasa dilakukan manusia. Tanpa ini, manusia tidak akan bisa bertahan dalam lingkungannya ataupun menyesuaikan diri dengan yang lainnya. Namun, berpikir saja tidak cukup. Ada cara-cara berpikir yang baik dan itu menjadi pedoman baginya agar tidak berpikir secara gegabah, sembrono, semaunya, sampai pada pikiran yang sesat. Cara inilah yang disediakan Logika. Selanjutnya, dengan berpikir, manusia bisa mengetahui sesuatu (= Epistemologi), yang juga merupakan kunci pemahaman atas sesuatu yang ada, sesuatu yang mungkin adanya, dan sesuatu yang tidak ada (= Ontologi). Baru setelah itu, kita dapat melakukan sesuatu penilaian atas apa yang kita pahami atau memahami nilai dari apa yang kita pahami (= Aksiologi).

Nah, dari uraian di atas, kita dapat melihat bahwa empat cabang itu cukup netral dan bisa dipakai untuk mengkaji masalah-masalah yang berkaitan dengan dunia, manusia, ataupun Tuhan. Oleh karena itu, empat cabang filsafat inilah yang akan saya jadikan dasar untuk masuk dalam cabang-cabang filsafat lainnya.

Misalnya, “Apakah Nazi-isme (berkaitan dengan partai politik Nazi yang didirikan oleh Adolf Hitler di Jerman) itu pola pikirnya keliru apa tidak?”
Dalam masalah ini, kita masuk dalam pembahasan Filsafat Politik melalui Logika.
Contoh lain: “Apakah kita dapat mengetahui awal terciptanya jagat raya?”
Pada soal ini, aspek Epistemologis menjadi dasar untuk memahami Kosmologi.
Begitupun dengan masalah-masalah lain dalam filsafat. Semuanya dapat dipahami dengan baik asalkan kita benar-benar memahami empat cabang filsafat tersebut.

Jadi, silahkan Anda mencari informasi tentang empat cabang filsafat tersebut. Ini karena dalam posting selanjutnya, saya akan membahas empat cabang filsafat ini satu per satu. Tentunya, kita akan mulai dari Logika terlebih dahulu.

Selamat membaca…

Sisingamangaraja XII (1845 – 1907) Pejuang Islam yang Gigih

2 Komentar


sisingamangaraja-xii

Sisingamangaraja merupakan nama besar dalam sejarah Batak. Dia tokoh pemersatu. Dinasti Sisingamangaraja dimulai sejak pertengahan tahun 1500-an, saat Raja Sisingamangaraja I yang lahir tahun 1515 mulai memerintah. Dia memang bukan raja pertama di sana. Pemerintahan masa sebelum itu dikenal dengan nama bius. Satu bius merupakan kumpulan sekitar tujuh horja. Sedangkan satu horja terdiri dari 20 huta atau desa yang punya pimpinan sendiri. Ada Bius Toba, Patane Bolon, Silindung dan sebagainya.

Dari 12 orang yang melanjutkan dinasti Sisingamangaraja, Singamangaraja XII merupakan raja paling populer dan diangkat sebagai pahlawan nasional sejak 9 November 1961. Lukisan dirinya yang dibuat Augustin Sibarani yang kemudian tercetak di uang Rp 1.000 yang lama, merupakan satu-satunya “foto” diri Sisingamangaraja. Dia naik tahta pada tahun 1876 menggantikan ayahnya Singamangaraja XI yang bernama Ompu Sohahuaon.

Penobatan Si Singamangaraja XII sebagai Maharaja di negri Toba bersamaan dengan dimulainya open door policy (politik pintu terbuka). Belanda merasa perlu mengamankan modal asing yang beroperasi di Indonesia yang tidak mau menandatangani Korte Verkaring ( perjanjian pendek) di Sumatra terutama Aceh dan Tapanuli. Kedua konsultan ini membuka hubungan dagang dengan negara-negara Eropa lainya. Belanda sendiri berusaha menanamkan monopilinya di kedua kesultanan tersebut. Politik yang berbeda ini mendorong situasi selanjutnya untuk melahirkan peperangan yang berkepanjangan hingga puluhan tahun.

Satu yang masih terus jadi bahan diskusi hingga hari ini, adalah agama yang anutan Sisingamangaraja XII. Sebagian yakin, dia penganut kepercayaan lama yang dianut sebagian besar orang Batak. Mirip dengan dua agama besar dunia Islam dan Kristen, agama Batak hanya mengenal satu Yang Maha Kuasa, Debata Mulajadi Na Bolon atau Ompu Mulajadi Nabolon. Sekarang agama Batak lama sudah ditinggalkan, walau tentu saja kepercayaan tradisional masih dipertahankan.

Daya tempur yang sangat lama ini karena di tunjang oleh ajaran agama islam. Hal ini jarang jarang di kemukakan oleh para sejarawan, karena merasa kurang relevan dengan predikat Pahlawan Nasional. Atau karena alasan-alasan lain merasa kurang perlu membicarakanya. Kalau toh mau membicarakan tentang agama yang di anut oleh Si Singamangaraja XII, mereka lebih cenderung untuk mengakui Si Singamangaraja XII beragama Pelbagu. Pelbagu semacam agama animisme yang mengenal pula pemujaan dewa. Debata Mulajadi sebagai mahadewa. Juga mengaenal ajaran Trimurti: Batara Guru (dewa kejayaan), Debata Ser

Satu hal yang sukar diterima adalah bila Si Singamangaraja XII beragama animisme, karena kalu kita perhatikan Cap Si Singamangaraja XII yang bertuliskan huruf arab berbunyi; Inilah Cap Maharaja di negri Toba kampung Bakara kotanya. Hijrah Nabi 1304. Pada cap tersebut terlihat jelas penggunaan tahun hijriah Nabi. Hal ini memberikan gambaran tentang besarnya pengaruh ajaran Islam yang menjiwai diri Si Singamangaraja XII. Adapun huruf batak yang masih pula di abadikan, adalah sama dengan tindakan Pangeran Diponegoro yang masih mengguakan huruf jawa dalam menulis surat.

Begitu pula kalau kita perhatikan bendera perangnya. Terlihat pengaruh Islam dalam gambar kelewang, matahari dan bulan. Akan lebih jelas bila kita ikuti keterangan beberapa majalah atau koran Belanda yang memberitakan tentang agama yang di anut oleh Si Singamangaraja XII, antara lain; Volgens berichten van de bevolking moet de togen, woordige titularis een 5 tak jaren geleden tot den Islam jizn bekeerd, doch hij werd geen fanatiek Islamiet en oefende geen druk op jizn ongeving uit om zich te bekeeren. ( Sukatulis, 1907, hlm, 1)

Menurut kabar-kabar dari penduduk, raja yang sekarang (maksud Titularis adalah Si Singamangaraja XII) semenjak lima tahun yang lalu memeluk agama Islam yang fanatik, demikian pula dia meneka supaya orang-orang sekelilingnya menukar agamanya. Berita di atas ini memberikan data kepada kita bahwa Si Singamangaraja XII beragama Islam. Selain itu, di tambahkan pula tentang rakyat yang tidak beragama Islam, dan Si Singamangaraja XII tidak mengadakan paksaan atau penekanan lainnya. Hal ini sekaligus memberikan gambaran pula tentang penguasaan Si Singamangaraja XII terhadap ajaran agama itu sendiri.

Mohammad Said, dalam bukunya Sisingamangaraja XII menyatakan kemungkinan benar bahwa Sisingamangaraja seorang Muslim. Pedomannya berasal dari informasi dalam tulisan Zendeling berkebangsaan Belanda, J.H Meerwaldt, yang pernah menjadi guru di Narumonda dekat Porsea. Meerwaldt mendengar Sisingamangaja sudah memeluk Islam.

Di majalah Rheinische Missionsgessellschaft tahun 1907 yang diterbitkan di Jerman yang menyatakan, bahwa Sisingamangaraja, kendati kekuatan adi-alamiah yang dikatakan ada padanya, dapat jatuh, dan bahwa demikian juga halnya dengan beralihnya dia menjadi orang Islam dan hubungannya kepada orang Aceh.

Hubungan dengan Aceh ini terjadi Belanda menyerang Tanah Batak pada tahun 1877. Karena lemah secara taktis, Sisingamangaraja XII menjalin hubungan dengan pasukan Aceh dan dengan tokoh-tokoh pejuang Aceh beragama Islam untuk meningkatkan kemampuan tempur pasukannya. Dia berangkat ke wilayah Gayo, Alas, Singkel, dan Pidie di Aceh dan turut serta pula dalam latihan perang Keumala.

Pertukaran perwira dilakukan. Perwira terlatih Aceh ikut dalam pasukan Sisingamangaraja XII untuk membantu strategi pemenangan perang, sementara perwira Batak terus dilatih di Aceh. Salah satunya Guru Mengambat, salah seorang panglima perang Sisingamangaraja XII. Guru Mengambat mendapat gelar Teungku Aceh.

Informasi itu berdasarkan Kort Verslag Residen L.C Welsink pada 16 Agustus 1906. Dalam catatan itu disebutkan, seorang panglima Sisingamangaraja XII bernama Guru Mengambat dari Salak (Kab. Pakpak Hasundutan sekarang) telah masuk Islam. Informasi ini diperoleh oleh Welsink dari Ompu Onggung dan Pertahan Batu.

Dalam sebuah surat rahasia kepada Departement van Oorlog, Belanda, Letnan L. van Vuuren dan Berenshot pada tanggal 19 juli 1907 menyatakan, Dat bet vaststaatdat de oude S .S. M. Met zijn zonns tot den Islam waren over gegaan, al zullen zij wel niet Mohamedan in merg en been geworden zijn/ Bahwa sudah pasti S. S. M. yang tua dengan putra-putranya telah beralih memeluk agama Islam, walaupun keislaman mereka tidak seberapa meresap dalam sanubarinya.

Surat Kabar Belanda Algemcene Handeslsblad pada edisi 3 Juli 1907, sebagaimana dinyatakan Mohammad Said dalam bukunya, menuliskan, “Menurut kabar dari pendudukan, sudahlah benar raja yang sekarang (maksudnya Sisingamangaraja) semenjak lima tahun yang lalu telah memeluk Islam. Tetapi dia bukanlah seorang Islam yang fanatik, demikian pula dia tidak menekan orang-orang di sekelilingnya menukar agamanya”.

Informasi ini semakin menguatkan dugaan Sisingamangaraja XII telah memeluk Islam. Apalagi terlihat pola-pola Islam dalam pola administrasi pemerintahannya, misalnya bendera dan stempel.

Bendera Sisingamangaraja XII yang berwarna merah dan putih., berlambang pedang kembar, bulan dan bintang, mirip dengan bendera Arab Saudi sekarang. Bedanya bulan dalam bendera Sisingamangaraja XII yang terletak di seblah kanan pedang merupakan bulan penuh atau bulan purnama, bukan bulan sabit. Sedangkan bintang yang terletak di sebelah kiri memiliki delapan gerigi, bukan lima seperti yang biasa terlihat di mesjid dalam lambang tradisi Islam lainnya. Namun benda bergerigi delapan itu bisa juga diartikan sebagai matahari.

Bagian luar stempel Sisingamangaraja yang mempunyai 12 gerigi pinggiran juga menggunakan tarikh Hijriah dan huruf Arab. Namun huruf Arab itu untuk menuliskan bahasa Batak, “Inilah cap Maharaja di Negri Toba Kampung Bakara Nama Kotanya, Hijrat Nabi 1304”. Sedangkan aksara bataknya menuliskan Ahu Sahap ni Tuwan Singa Mangaraja mian Bakara, artinya Aku Cap Tuan Singa Mangaraja Bertakhta di Bakara.

“Sebenarnya bendera dan stempel itu sudah mencirikan corak Islam dalam pemerintahan Sisingamangaraja. Dengan demikian kuat kemungkinan dia sudah memeluk Islam, tetapi tidak ada data otentik jadi tidak bisa dipastikan kebenarannya,” kata Ketua Majelis Ulama Sumut H Mahmud Azis Siregar.

Keterangan lebih mendalam disampaikan, Dada Meuraxa dalam bukunya Sejarah Kebudayaan Suku-suku di Sumatera Utara. “Sisingamangaraja XII sudah masuk Islam dan disunatkan di Aceh waktu beliau datang ke Banda Aceh meminta bantuan senjata,” kata Meuraxa.

Dalam buku itu Meuraxa menyebutkan, keterangan itu berdasarkan pernyataan seorang sumber, Tuanku Hasyim, yang mengutip pernyataan bibi-nya yang juga istri Panglima Polem yang menyaksikan sendiri upacara tersebut di Aceh.

“Walaupun belum cukup fakta-fakta Sisingamangaraja seorang Islam, tetapi gerak hidupnya sangat terpengaruh cerita Islam. Sampai kepada cap kerajaannya sendiri tulisan Arab. Benderanya yang memakai bulan bintang dan dua pedang Arab ini pun memberikan fakta terang,” tulis Dada Meuraxa.

Singamangaraja XII sendiri bernama Ompu Pulobatu, lahir pada 18 Februari 1845 dan meninggal 7 Juni 1907 dalam sebuah pertempuran dengan Belanda di Dairi. Sebuah peluru menembus dadanya. Menjelang nafas terakhir, akibat tembakan pasukan Belanda yang dipimpin Kapten Hans Christoffel itu, dia tetap berucap, “Ahuu Sisingamangaraja”.

Ucapan itu identik dengan kegigihannya berjuang.Turut tertembak juga waktu itu dua putranya Patuan Nagari dan Patuan Anggi, serta putrinya Lopian. Sedangkan sisa keluarganya ditawan di Tarutung. Itulah akhir pertempuran melawan penjajahan Belanda di tanah Batak sejak tahun 1877. Sisingamangaraja sendiri kemudian dikebumikan Belanda secara militer pada 22 Juni 1907 di Silindung. Makamnya baru dipindahkan ke Soposurung, Balige seperti sekarang ini sejak 17 Juni 1953.

sumber :
http://mjinstitute.com/sejarah/21-si-singamangaraja-xii-gugur-sebagai-pahlawan-islam
http://khairulid.blogspot.com/2005/03/mempertentangkan-agama-sisingamangaraja.html

Older Entries